Kamis, 27 Des 2012 10:07 WIB

11 Efek Positif Hormon Cinta pada Manusia

- detikHealth
(Foto: thinkstock) (Foto: thinkstock)
Jakarta - Hormon cinta atau oksitosin diproduksi oleh suatu struktur di otak bernama hipotalamus. Hormon ini mempengaruhi perilaku manusia dan banyak dihasilkan saat sedang jatuh cinta. Ternyata, manfaat dan efeknya tak hanya membuat anak manusia dimabuk asmara.

Oksitosin menciptakan perasaan tenang dan membuat pasangan yang sedang dilanda asmara menjadi makin intim. Penelitian menemukan bahwa hormon ini ikut dilepaskan saat proses persalinan dan menyusui bayi. Beberapa penelitian akhir-akhir ini pun banyak difokuskan untuk menjelajahi berbagai efek oksitosin bagi tubuh.

Seperti dikutip dari MyHealthNewsDaily.com, Kamis (27/12/2012), berikut adalah bermacam efek hormon cinta bagi manusia

1. Membuat orang jadi murah hati
Sebuah penelitian tahun 2007 yang dimuat jurnal Public Library of Science ONE menemukan kesimpulan ini. Dalam penelitian, peserta diminta menghirup oksitosin atau plasebo lewat hidung kemudian diminta membagi uang yang dimiliki dengan orang asing. Penghirup oksitosin ternyata 80 persen lebih murah hati. Agaknya, hormon ini mempengaruhi sikap altruisme.

2. Membuat gampang tidur
Oksitosin dilepaskan di otak saat kondisi pikiran terbebas dari stres, sehingga secara alami membikin orang jadi gampang tidur, demikian menurut sebuah penelitian tahun 2003 yang dimuat jurnal Peptides Regulatory. Oksitosin menangkal efek hormon stres, kortisol. Efeknya membuat pikiran jadi tenang.

3. Memicu naluri melindungi
Sebuah penelitian yang dimuat jurnal Science menegaskan bahwa oksitosin memicu sikap perlindungan terhadap orang yang dikasihi dari serangan pihak luar atau akrab dikenal dengan solidaritas. Penelitian sebelumnya pada hewan juga menunjukkan bahwa hormon ini mendukung perilaku proteksionis.

4. Meningkatkan keterampilan sosial
Sebuah penelitian yang dimuat jurnal Proceedings of National Academy of Sciences menemukan bahwa menghirup oksitosin dapat meningkatkan kemampuan interaksi sosial pada penyandang autisme. Penelitian sebelumnya menemukan bahwa orang autis memiliki kadar oksitosin yang rendah. Oksitosin juga mengurangi rasa takut pada penyandang autis.

5. Menghambat kecanduan obat
Menurut sebuah laporan penelitan tahun 1999 yang dimuat jurnal Progress in Brain Research, beberapa penelitian menunjukkan bahwa oksitosin menghambat toleransi terhadap obat adiktif, termasuk opium, kokain dan alkohol, serta mengurangi gejala sakau.

6. Meningkatkan gairah seksual
Sejumlah senyawa kimia otak dilepaskan saat manusia mencapai orgasme, termasuk oksitosin. Bahan kimia ini dapat memperkuat ikatan antar pasangan seksual. Tikus yang otaknya disuntik dengan oksitosin mengalami ereksi secara spontan, menurut sebuah penelitian tahun 2001 yang dimuat jurnal Physiological Review.

7. Mendukung persalinan dan menyusui
Oksitosin dilepaskan dalam jumlah besar selama persalinan, sehingga memicu kontraksi rahim yang membuka leher rahim dan memungkinkan bayi melewati jalan lahir. Sejak awal tahun 1900-an, dokter menggunakan oksitosin sintetis yang juga dikenal dengan nama merek Pitocin untuk membantu persalinan.

Setelah persalinan, hormon ini terus merangsang kontraksi rahim untuk mencegah pendarahan dan akan dikeluarkan lebih banyak lagi ketika puting dirangsang saat menyusui bayi.

8. Memperkuat kenangan emosional
Sebuah penelitian yang dimuat jurnal Proceedings of National Academy of Sciences mendukung teori bahwa oksitosin memperkuat kenangan masa kecil para pria mengenai ibunya. Dalam percobaan terhadap 31 orang, peneliti menemukan bahwa orang yang menghirup oksitosin sintetis makin santer mengingat kenangan indah tentang ibunya, asal hubungannya dengan ibu cukup baik.

9. Meringankan stres
Sebuah penelitian yang dilakukan pada tikus prairi menemukan bahwa tikus yang terpisah dari saudaranya menampakkan tanda-tanda kecemasan, stres dan depresi. Namun gejala ini mereda setelah disuntik dengan oksitosin. Penelitian yang dipresentasikan pada pertemuan Society for Neuroscience tahun 2007 ini menunjukkan efek hormon ini untuk menangkal stres.

10. Mempererat hubungan
Peneliti membandingkan tingkat oksitosin dan hormon terkait yang disebut vasopressin pada urin anak-anak di Rusia dan panti asuhan di Rumania. Hasilnya menemukan bahwa oksitosin meningkat pada anak-anak setelah melakukan kontak dengan ibu kandungnya.

Penelitian yang dilakukan tahun 2005 dan dimuat dalam jurnal Proceeding of National Academy of Sciences ini menunjukkan bahwa oksitosin juga tetap berada dalam kadar yang sama pada anak angkat. Hal ini dapat menjelaskan mengapa beberapa anak angkat mengalami kesulitan dalam membentuk hubungan.

11. Memicu kelekatan ibu dengan bayi
Sebuah penelitian tahun 2007 yang dimuat jurnal Psychological Science menemukan bahwa ibu hamil yang memiliki kadar oksitosin tinggi selama trimester pertama kehamilan lebih dekat dengan bayinya. Dibandingkan dengan perempuan lain, perempuan yang memiliki oksitosin dalam kadar tinggi selama kehamilan dan beberapa bulan setelah persalinan juga lebih dekat dengan buah hatinya.




(pah/vit)