1. Diare
ilustrasi (Foto: Thinkstock)
|
Saat banjir, kasus penyakit diare umumnya mengalami peningkatan. Saat banjir, air yang sering digunakan untuk makan dan minum bisa terkontaminasi. Sampah-sampah yang dibawa arus air juga menjadi sarang penyakit. Luapan air yang terkontaminasi dengan zat-zat kotoran dan kuman akan mengundang bibit-bibit penyakit lain.
2. Sakit Kulit
ilustrasi (Foto: Thinkstock)
|
Selain diare, kasus penyakit kulit juga mengalami peningkatan drastis saat banjir berlangsung ataupun setelahnya. Air yang tercemar kuman penyakit dan digunakan untuk mandi bisa memicu alergi, gatal-gatal dan gangguan lainnya. Berendam dalam air yang kotor ini juga rentan memicu penyakit kulit.
3. Leptospirosis
ilustrasi (Foto: Thinkstock)
|
Penyakit leptospirosis disebabkan oleh bakteri leptospira. Bakteri ini terdapat di dalam air kencing hewan yang terinfeksi, terutama kencing tikus. Terkadang kencing anjing dan babi juga bisa menularkan. Bakteri ini masuk ke tubuh manusia melalui luka, mulut atau mata.
Apabila masuk ke tubuh, bakteri akan beredar lewat darah dan berkembang biak dengan cepat. Jika tak segera ditangani, leptospirosis bisa menyebabkan syndrome weil yakni gagal ginjal dan sakit kuning. Bahkan tidak jarang menyebabkan meningitis dan pendarahan di paru-paru.
4. Batuk pilek
ilustrasi (Foto: Thinkstock)
|
Kondisi banjir membuat suasana menjadi lembab dan dingin. Ditambah dengan cuaca yang tidak mendukung sehingga rentan memicu penyakit batuk pilek. Penderita banjir yang setiap hari menghadapi kondisi seperti ini tentu lebih rentan terserang batuk pilek.
5. Demam tifoid
ilustrasi (Foto: Thinkstock)
|
Demam tifoid disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella typhi yang masuk melalui makanan dan air yang terkontaminasi. Awalnya penyakit ini tidak menimbulkan gejala. Pada tahap lanjut, muncul keluhan berupa demam di sore hari dan serangkaian gejala infeksi pada saluran cerna.
Saat banjir, kasus penyakit diare umumnya mengalami peningkatan. Saat banjir, air yang sering digunakan untuk makan dan minum bisa terkontaminasi. Sampah-sampah yang dibawa arus air juga menjadi sarang penyakit. Luapan air yang terkontaminasi dengan zat-zat kotoran dan kuman akan mengundang bibit-bibit penyakit lain.
Selain diare, kasus penyakit kulit juga mengalami peningkatan drastis saat banjir berlangsung ataupun setelahnya. Air yang tercemar kuman penyakit dan digunakan untuk mandi bisa memicu alergi, gatal-gatal dan gangguan lainnya. Berendam dalam air yang kotor ini juga rentan memicu penyakit kulit.
Penyakit leptospirosis disebabkan oleh bakteri leptospira. Bakteri ini terdapat di dalam air kencing hewan yang terinfeksi, terutama kencing tikus. Terkadang kencing anjing dan babi juga bisa menularkan. Bakteri ini masuk ke tubuh manusia melalui luka, mulut atau mata.
Apabila masuk ke tubuh, bakteri akan beredar lewat darah dan berkembang biak dengan cepat. Jika tak segera ditangani, leptospirosis bisa menyebabkan syndrome weil yakni gagal ginjal dan sakit kuning. Bahkan tidak jarang menyebabkan meningitis dan pendarahan di paru-paru.
Kondisi banjir membuat suasana menjadi lembab dan dingin. Ditambah dengan cuaca yang tidak mendukung sehingga rentan memicu penyakit batuk pilek. Penderita banjir yang setiap hari menghadapi kondisi seperti ini tentu lebih rentan terserang batuk pilek.
Demam tifoid disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella typhi yang masuk melalui makanan dan air yang terkontaminasi. Awalnya penyakit ini tidak menimbulkan gejala. Pada tahap lanjut, muncul keluhan berupa demam di sore hari dan serangkaian gejala infeksi pada saluran cerna.
(pah/vit)