Rambut Anda Rontok? Mungkin Ini Penyebabnya

Rambut Anda Rontok? Mungkin Ini Penyebabnya

Vera Farah Bararah - detikHealth
Selasa, 22 Jan 2013 11:35 WIB
Rambut Anda Rontok? Mungkin Ini Penyebabnya
(Foto: Thinkstock)
Jakarta - Rambut rontok adalah masalah yang banyak dijumpai kaum perempuan. Jika berbagai cara sudah dilakukan tapi rambut tetap saja rontok, bisa jadi salah satu hal ini penyebabnya.

Rambut yang rontok ketika mandi di pagi hari, tertiup udara yang kering atau saat menyisir dengan cepat adalah hal yang normal. Rata-rata rambut rontok 50-100 helai dalam sehari, karena rambut ini mengalami siklus.

Tapi jika lebih dari itu, bisa jadi salah satu hal ini penyebabnya, seperti dikutip dari MSN.com, Selasa (22/1/2013) yaitu:

1. Telogen effluvium

(Foto: Thinkstock)
Fenomena ini terjadi setelah kehamilan, menjalani operasi besar, penurunan berat badan drastis atau stres yang ekstrem. Selama telogen effluvium, siklus rambut dari fase tumbuh ke fase istirahat lebih cepat dari kondisi normal.

Gejala yang muncul biasanya rambut rontok 6 minggu sampai 3 bulan setelah suatu peristiwa, dan pada puncaknya bisa kehilangan segenggam rambut.

2. Keturunan

(Foto: Thinkstock)
Rambut rontok yang genetik dikenal sebagai androgenetic alopecia yang bisa diturunkan dari ibu atau ayah dari keluarga. Gejala yang muncul cenderung mengembangkan adanya penipisan pada garis rambut belakang poni dan bisa dimulai sejak usia 20-an tahun.

Biasanya dokter akan memeriksa pola kerontokan rambut yang terjadi dan menentukan apakah ada pengaruh keturunan atau tidak serta melihat bagaimana penanganannya.

3. Hipotiroid

(Foto: Thinkstock)
Sebagian besar penderita hipotiroid (produksi hormon terlalu sedikit di dalam tubuh) adalah perempuan. Kondisi ini membuat rambut dan kuku menjadi lebih rapuh sehingga mudah rontok.

Hormon tiroid bertanggung jawab terhadap tingkat metabolisme tubuh dalam menggunakan oksigen dan energi untuk pertumbuhan rambut, kulit dan kuku. Jika produksinya tidak tepat, maka akan ada perubahan dalam fungsi tubuh.

4. Lupus

(Foto: Thinkstock)
Lupus adalah penyakit autoimun kronis yang mana sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan sehat. Banyak orang dengan lupus mengalami rambut rontok yang terjadi saat keramas atau menyisir rambut, dan kadang bisa parah jika disertai dengan ruam pada kulit kepala.

Gejala lain yang muncul dari lupus adalah kelelahan ekstrem, sakit kepala, sendi bengkak dan banyak orang mengalami ruam berbentuk kupu-kupu di wajah, serta lebih sensitif terhadap matahari.

5. Anemia karena kekurangan zat besi

(Foto: Thinkstock)
Jika perempuan mengalami periode menstruasi parah atau tidak cukup mengonsumsi makanan kaya zat besi lebih mungkin rentan kekurangan zat besi. Gejala yang muncul mulai dari kelelahan, lemah, kulit pucat, sulit berkonsentrasi hingga rambut rontok.

Sebaiknya konsumsi makanan kaya zat besi seperti daging sapi, ikan, sayuran hijau dan kacang-kacangan bersama dengan makanan kaya vitamin C untuk meningkatkan penyerapan zat besi.

6. Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS)

(Foto: Thinkstock)
Kondisi ini disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon yang mana ovarium memproduksi hormon laki-laki terlalu banyak. PCOS bisa menyebabkan pertumbuhan rambut di wajah, menstruasi tidak teratur dan kista di indung telur.

Meski tumbuh rambut berlebih di bagian tubuh lain, tapi seseorang akan mengalami kerontokkan rambut di kulit kepalanya.

7. Kondisi kulit kepala

(Foto: thinkstock)
Kulit kepala yang tidak sehat bisa menyebabkan peradangan yang membuat rambut sulit untuk tumbuh. Kondisi kulit yang menyebabkan rambut rontok termasuk seborrheic dermatitis (ketombe), psoriasis dan infeksi jamur.

Sebuah pemeriksaan fisik dari kulit kepala bisa membantu menentukan kondisi apa yang dimiliki, sehingga dapat ditentukan pengobatannya.

8. Styling berlebihan

(Foto: Thinkstock)
Terlalu sering keramas, gonta-ganti gaya dan mewarnai bisa membahayakan rambut. Ini karena suhu panas dan bahan kimia dapat melemahkan rambut yang membuatnya jadi rontok.

Sebaiknya hindari penggunakan hair dryer atau alat catok terlalu sering, jangan mewarnai rambut lebih dari 2 warna normal karena semakin parah perubahan warna yang terjadi makin banyak bahan kimia yang dibutuhkan sehingga membuat rambut rontok.
Halaman 2 dari 9
Fenomena ini terjadi setelah kehamilan, menjalani operasi besar, penurunan berat badan drastis atau stres yang ekstrem. Selama telogen effluvium, siklus rambut dari fase tumbuh ke fase istirahat lebih cepat dari kondisi normal.

Gejala yang muncul biasanya rambut rontok 6 minggu sampai 3 bulan setelah suatu peristiwa, dan pada puncaknya bisa kehilangan segenggam rambut.

Rambut rontok yang genetik dikenal sebagai androgenetic alopecia yang bisa diturunkan dari ibu atau ayah dari keluarga. Gejala yang muncul cenderung mengembangkan adanya penipisan pada garis rambut belakang poni dan bisa dimulai sejak usia 20-an tahun.

Biasanya dokter akan memeriksa pola kerontokan rambut yang terjadi dan menentukan apakah ada pengaruh keturunan atau tidak serta melihat bagaimana penanganannya.

Sebagian besar penderita hipotiroid (produksi hormon terlalu sedikit di dalam tubuh) adalah perempuan. Kondisi ini membuat rambut dan kuku menjadi lebih rapuh sehingga mudah rontok.

Hormon tiroid bertanggung jawab terhadap tingkat metabolisme tubuh dalam menggunakan oksigen dan energi untuk pertumbuhan rambut, kulit dan kuku. Jika produksinya tidak tepat, maka akan ada perubahan dalam fungsi tubuh.

Lupus adalah penyakit autoimun kronis yang mana sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan sehat. Banyak orang dengan lupus mengalami rambut rontok yang terjadi saat keramas atau menyisir rambut, dan kadang bisa parah jika disertai dengan ruam pada kulit kepala.

Gejala lain yang muncul dari lupus adalah kelelahan ekstrem, sakit kepala, sendi bengkak dan banyak orang mengalami ruam berbentuk kupu-kupu di wajah, serta lebih sensitif terhadap matahari.

Jika perempuan mengalami periode menstruasi parah atau tidak cukup mengonsumsi makanan kaya zat besi lebih mungkin rentan kekurangan zat besi. Gejala yang muncul mulai dari kelelahan, lemah, kulit pucat, sulit berkonsentrasi hingga rambut rontok.

Sebaiknya konsumsi makanan kaya zat besi seperti daging sapi, ikan, sayuran hijau dan kacang-kacangan bersama dengan makanan kaya vitamin C untuk meningkatkan penyerapan zat besi.

Kondisi ini disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon yang mana ovarium memproduksi hormon laki-laki terlalu banyak. PCOS bisa menyebabkan pertumbuhan rambut di wajah, menstruasi tidak teratur dan kista di indung telur.

Meski tumbuh rambut berlebih di bagian tubuh lain, tapi seseorang akan mengalami kerontokkan rambut di kulit kepalanya.

Kulit kepala yang tidak sehat bisa menyebabkan peradangan yang membuat rambut sulit untuk tumbuh. Kondisi kulit yang menyebabkan rambut rontok termasuk seborrheic dermatitis (ketombe), psoriasis dan infeksi jamur.

Sebuah pemeriksaan fisik dari kulit kepala bisa membantu menentukan kondisi apa yang dimiliki, sehingga dapat ditentukan pengobatannya.

Terlalu sering keramas, gonta-ganti gaya dan mewarnai bisa membahayakan rambut. Ini karena suhu panas dan bahan kimia dapat melemahkan rambut yang membuatnya jadi rontok.

Sebaiknya hindari penggunakan hair dryer atau alat catok terlalu sering, jangan mewarnai rambut lebih dari 2 warna normal karena semakin parah perubahan warna yang terjadi makin banyak bahan kimia yang dibutuhkan sehingga membuat rambut rontok.

(ver/)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads