Uring-uringan Tiap Hari, Ternyata Wanita Ini Kena Penyakit Aneh

Uring-uringan Tiap Hari, Ternyata Wanita Ini Kena Penyakit Aneh

Putro Agus Harnowo - detikHealth
Selasa, 22 Jan 2013 17:02 WIB
Uring-uringan Tiap Hari, Ternyata Wanita Ini Kena Penyakit Aneh
Meryl Cubley (Foto: Daily Mail)
Jakarta -

Uring-uringan dan cepet lelah belum tentu disebabkan karena kelelahan beraktivitas. Sebab hal itu bisa jadi pertanda penyakit. Seorang wanita mengalami kondisi tersebut selama 20 tahun dan berhasil sembuh setelah menjalani pengobatan.

Penyakit tersebut bernama dysthymia, yaitu penyakit yang ditandai dengan gangguan suasana hati, capek, gangguan tidur, nafsu makan berkurang dan enggan melakukan kontak sosial. Walau sudah ditemukan pengobatannya, penyebab penyakit ini belum begitu jelas.

Salah seorang pengidapnya adalah Meryl Cubley yang menghabiskan 20 tahun hidupnya dengan penyakit ini. Awalnya dia menduga bahwa uring-uringan serta rendahnya antusiasme adalah karena kepribadiannya. Namun 4 bulan lalu, wanita berusia 38 tahun ini didiagnosa mengidap dysthymia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kini, dia menjalani perawatan yang sudah mengubah hidupnya. Dampaknya lumayan baik, dia bisa tidur lebih nyenyak dan mulai berhasil menurunkan berat badan. Padahal sebelumnya dia dikenal pemarah dan selalu terlihat dalam mood yang buruk.

"Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun saya merasa lebih baik dalam hidup saya. Saya sudah berhenti membatalkan janji pada menit terakhir dan saya menemui teman-teman saya lebih teratur," kata Cubley seperti dilansir Daily Mail, Selasa (22/1/2013).

Gejala penyakit ini dialami Cubley pertama kali saat berusia 19 tahun. Ketika itu dia merasa cemas dan putus asa. Dokter mendiagnosisnya dengan depresi dan kecemasan. Tapi suasana hati yang membuatnya seolah mati rasa dan tidak tertarik pada kehidupan selalu muncul.

Anehnya, gangguan ini tidak begitu banyak menghambat karirnya. Cubley sukses sebagai seorang novelis dan berpacaran dengan Richard. Namun dia tidak pernah merasa puas dengan kehidupannya. Dia lantas diresepkan obat antidepresi, tapi malah justru membuatnya lebih cemas.

Pedoman yang diterbitkan National Institute of Health and Clinical Excellence (NICE) menyebutkan bahwa untuk diagnosis pasien dysthymia, pasien harus memiliki 2 gejala depresi selama sedikitnya dua tahun. Sedangkan untuk depresi, pasien harus memiliki setidaknya 3 gejala selama dua minggu.

Gejala tersebut misalnya merasa sedih sepanjang hari, memiliki tingkat energi yang rendah, nafsu makan turun atau makan berlebihan, tidur terlalu banyak atau terlalu sedikit, memandang kehidupan secara negatif, menarik diri dari kontak sosial dan jarang merasa gembira.

"Orang dengan dysthymia biasanya hanya mengalami satu atau dua gejala depresi, tetapi biasanya lebih lama," kata Dr Cosmo Hallstrom, psikiater konsultan dan juru bicara Royal College of Psychiatry.

Dysthymia berkaitan dengan kurangnya serotonin, yaitu bahan kimia otak yang mengatur suasana hati. Penelitian terbaru menemukan bahwa penyakit ini dapat disebabkan oleh ketidakseimbangan dopamin, bahan kimia otak lainnya.

Gejala dysthymia biasanya dimulai pada masa akhir remaja atau awal masa dewasa. Tapi masalahnya sering tidak terobati karena dokter kurang jeli melihatnya. Jika tidak diobati, penderita dysthymia berisiko tinggi mengalami depresi.

Obat-obatan antidepresan dapat mengatur kadar serotonin dan dopamin. Tapi efektivitasnya untuk mengatasi dysthymia masih dinilai lemah. Yang sudah terbukti berhasil menangani gangguan ini adalah terapi Cognitive Behavioural Therapy (CBT).

Cubley diresepkan mirtazapin, salah satu dari obat antidepresan generasi baru. Efek sampingnya juga bisa sebagai penenang sehingga dapat membantunya mengatasi insomnia. Dia mengikuti CBT untuk mengenali pola pikir yang menyebabkan suasana hatinya rendah.

Diperkirakan sebanyak 3 persen populasi mengidap gangguan ini. Tetapi karena cenderung mengalihkannya dengan tuntutan kehidupan sehari-hari dan pekerjaan, gejalanya bisa teratasi dan tidak terdiagnosis selama beberapa puluh tahun, bahkan seumur hidup.

"Penderita sering tidak menyadarinya sebagai masalah. Ini bisa mulai membentuk kepribadian dan pandangan hidup sehingga mereka melihatnya dengan cara yang lebih negatif. Gangguan ini memperdalam suasana hati yang rendah, sehingga dapat menjadi lingkaran setan yang sulit dipecah," kata Profesor Craig Jackson, kepala psikologi di Birmingham City University.

(pah/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads