Menurut peneliti, Manfred Milinski dari Max Planck Institute for Evolutionary Biology, Jerman, hewan bertulang belakang mulai dari ikan stickelback hingga manusia memiliki protein unik yang berfungsi membantu sel-sel kekebalan untuk mengenali benda-benda asing yang masuk ke dalam tubuh seperti bakteri atau virus.
Namun 'sidik jari' kekebalan yang disebut major histocompatibility complexes (MHCs) ini ternyata juga memainkan peran penting dalam perilaku memilih pasangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal itu kemudian mendorong Milinski dan rekan-rekannya untuk mencari tahu mengapa manusia suka sekali menghabiskan uangnya untuk membeli parfum, meski sebenarnya bahan-bahan yang digunakan untuk parfum selalu konsisten dari waktu ke waktu.
Satu kemungkinan parfum bisa menjadi populer adalah karena zat kimia yang dikandung parfum klasik meniru zat kimia unik yang ada pada sistem kekebalan tersebut.
Untuk memastikannya, peneliti menciptakan versi sintetik dari molekul MHC. Lalu peneliti meminta 22 partisipan wanita untuk mengaplikasikan empat versi parfum yang berbeda di bawah ketiaknya dalam dua malam yang berbeda.
Dari situ diketahui bahwa sebagian besar partisipan secara konsisten memilih mengenakan parfum yang 'baunya' seperti aroma sistem kekebalan mereka.
"Selain itu berarti semakin jelas bahwa alasan di balik keputusan Anda memilih suatu jenis parfum itu bukanlah keinginan Anda sendiri tapi didikte oleh gen MHC Anda," tandas Milinski seperti dikutip dari foxnews, Minggu (27/1/2013).
Menurut peneliti, temuan ini dapat dijadikan dasar untuk membuat zat kimia yang dapat ditambahkan pada parfum sintetis. Parfum ini diharapkan dapat menyebarkan 'ciri khas' sistem kekebalan seseorang yang akan menarik orang lain yang memiliki sistem kekebalan yang sesuai atau kompatibel dengan pengguna parfum sebagai calon pasangannya.
"Temuan ini pun memastikan bahwa bau badan benar-benar membawa petunjuk tipe sistem kekebalan tubuh seseorang," kata Cristina Davis dari University of California yang mempelajari bau badan dan kaitannya dengan status kekebalan seseorang tapi tak terlibat dalam studi ini.
"Lagipula studi ini juga menunjukkan bahwa indera penciuman bisa jadi mempengaruhi perilaku seseorang dan salah satu perilaku itu adalah seleksi atau pemilihan calon pasangan," tambahnya.
(/)











































