Pemblokiran terhadap situs-situs penjual obat perangsang ilegal dirasa kurang efektif untuk memerangi hal ini. Jika seperti itu, adakah cara yang efektif memerangi penjualan obat perangsang ilegal?
"Orangnya atau pengkonsumsi yang harus dipinterin," ujar Donny BU peneliti senior Information and Communication Technology (ICT) Watch saat dihubungi detikHealth, Jumat (1/2/2013).
Donny mengungkapkan budaya di sini terlalu menabukan banyak hal. Jika informasi yang ingin didapat oleh masyarakat ditutupi, maka akan ada banyak orang yang justru mencarinya di internet.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alasan sebagian besar orang mencari-cari di internet karena merasa lebih privasi dan tidak harus bertemu dengan orang-orang. Mereka bisa akses tanpa perlu malu-malu dan membeli obat tersebut.
"Kalau dengan filtering itu bisa saja tapi nggak efektif, cari cara lain, harus ada informasi alternatif untuk itu. Yang paling penting kalau ada konten negatif harus diimbangi dengan bikin konten positif untuk melawannya," ungkap Donny.
Misalnya jika ada konten yang menjual obat perangsang ilegal maka berikan konten untuk melawannya seperti berisi apa saja bahaya dari obat tersebut dan bagaimana meningkatkan gairah selain melalui obat, seperti olahraga.
Permen karet pembangkit gairah seks ini diketahui tidak memiliki izin edar dari BPOM, namun sayangnya sudah banyak dijual di internet dan bahkan terhitung laris penjualannya.
Karena permen ini kebanyakan dijual di internet, BPOM akan melakukan koordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika guna memblokir situs-situs yang menjualnya, serta dengan Bareskrim Polri dalam memberantas obat-obat ilegal yang dijual lewat internet.
(ver/)











































