1. Soliris
|
Soliris (Foto: Forbes)
|
Mahalnya harga ini disebabkan karena investasi yang dilakukan produsen, Alexion Pharmaceuticals, senilai US$ 800 juta atau sekitar Rp 7,73 triliun dan masa penelitian selama 15 tahun. Hasilnya, studi menemukan Soliris dapat mengurangi 90 persen komplikasi hemoglobinuria nokturnal paroksismal.
2. Elaprase
|
Elaprase (Foto: Forbes)
|
Untuk pembelian satu botol saja dihargai US$ 4.215 atau sekitar Rp 41 juta. Di Amerika Serikat, diperkirakan ada sekitar 500 orang yang menderita sindrom Hunter dan menghabiskan uang total senilai US$ 353 juta atau sekitar Rp 3,4 triliun pada tahun 2009 untuk membeli Elaprase.
3. Naglazyme
|
Naglazyme (foto: Biopharma.com)
|
4. Cinryze
|
Cinryze (Foto: Forbes)
|
Karena penyakitnya langka, maka obatnya juga mahal, yaitu US$ 350.000 atau sekitar Rp 3,38 miliar per tahun. Sang produsen, ViroPharma, berhasil membukukan penjualan tahunan obat mulai dari US$ 95 juta atau sekitar Rp 918 miliar hingga US$ 350 juta atau sekitar Rp 3,38 triliun.
5. Folotyn
|
Folotyn (Foto: Folotyn.com)
|
6. ACTH
|
ACTH (Foto: Omususa.org)
|
Biaya yang harus dikeluarkan adalah US$ 115 ribu atau sekitar Rp 1,1 miliar per bulan. Per botol, obat ini dibanderol seharga US$ 23.000 atau sekitar Rp 222 juta.
7. Myozyme
|
Myozyme (Foto: Forbes)
|
Untuk mendapat obat ini, biaya per tahun yang harus dikeluarkan bisa mencapai US$ 100.000 atau sekitar Rp 966 juta untuk anak-anak dan US$ 300.000 atau Rp 2,9 miliar untuk dewasa. Walau mahal, obat ini terbukti dapat menyelamatkan banyak nyawa pasien Pompe.
8. Arcalyst
|
Arcalyst (Foto: drugline.org)
|
9. Ceredase / Cerezyme
|
Cerezyme (Foto: Forbes)
|
10. Fabrazyme
|
Fabrazyme (Foto: drugline.com)
|
11. Aldurazyme
|
Aldurazyme (Foto: Forbes)
|
Halaman 2 dari 12











































