Haley Rivera belum pernah merasakan tidur malam sejak dilahirkan 18 bulan lalu. Begitu juga dengan ayah dan ibunya.
"Satu malam ketika usianya baru 2 minggu, saat itu jam 3 pagi dan dia tak tertidur sama sekali. Bayi macam apa yang tak tidur hampir seharian? Ini membuat saya sangat kewalahan," kata sang ibu, Jennifer Stella.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak tahu harus berbuat apa, Stella dan suaminya, Edgar Rivera pun menemui Dr. Haviva Veler, dokter anak dengan spesialisasi pulmonologi yang juga seorang pakar tidur. Dr. Veler juga mengepalai Weill Cornell’s Pediatric Sleep Center di New York-Presbyterian’s Komansky Center for Children’s Health. Lalu Veler menyarankan agar Haley menjalani studi tentang pola tidurnya di klinik tersebut dalam satu malam saja.
Haley datang ke Weill Cornell's Pediatric Sleep Center dengan mengenakan piyama bermotif kaki leopard berbahan flanel dan memeluk boneka binatang favoritnya, anjing pudel merah muda. Matanya yang berwarna cokelat dan besar tampak berat dan lelah tapi lingkungan di sekitarnya yang tampak asing membuatnya tetap terjaga.
Beruntung tepat ketika jam tidurnya sudah tiba yaitu pukul 07.30 malam, Haley berkenan 'dimasukkan' ke dalam salah satu lab agar pola tidurnya dapat dipelajari. Untuk mengalihkan perhatiannya, peneliti menyalakan video Mickey Mouse Club. Saat itu juga tanpa banyak perlawanan, Neranjan DeSilva berhasil menempelkan 20 sensor berbeda di kepala, kaki dan perut Haley.
Haley bisa tertidur cukup lelap selama 'menginap' di Weill Cornell's Pediatric Sleep Center dan sang ibu menunggui Haley hingga tertidur tepat di sebelah kanan ranjangnya.
Hingga pukul 6 pagi, DeSilva berada di dalam sebuah ruangan khusus di sebelah kamar Haley untuk mengamati nafas, gelombang otak, detak jantung dan kadar oksigen Haley, berikut seberapa sering ia menahan nafasnya saat tidur.
"Dari situ terlihat adanya kasus apnea ringan dengan episode 1,8 kali setiap jamnya. Namun sebagian besar alasan mengapa Haley terus terbangun itu semata masalah perilaku, bukan karena ada alasan medis di balik itu," tandas Dr. Veler seperti dilansir dari nydailynews, Rabu (27/2/2013).
Untuk itu, Dr. Veler menyarankan agar Stella menaruh banyak dot atau penenang di sekitar ranjang anaknya jadi ketika Haley terbangun, ia bisa lebih mudah menemukan dotnya dan belajar kembali tidur sendiri. Namun Dr. Veler juga merujuk agar Haley dibawa ke dokter speasialis THT dan psikolog tidur.
"Ketika saya melihat bayi-bayi lainnya yang bisa tertidur pulas di kereta dorong, saya takjub karena Haley tak pernah bisa tidur seperti itu. Tapi sekarang saya berharap Haley bisa mendapatkannya," tutup Rivera.
Dr. Veler pun menambahkan, "Pesan terpenting yang ingin saya sampaikan pada para orang tua adalah mendengkur itu bukan hanya suara yang lucu, tapi itu bisa jadi kondisi serius jika terus-terusan terjadi," komentar Dr. Veler yang menangani 10 pasien anak baru setiap minggunya dengan masalah mulai dari sleep apnea hingga tidur sambil berjalan dan kejang-kejang.
"Sekitar 10 persen anak memang tidur dengan mendengkur tapi jika dengkurannya lebih keras dari biasanya dan terjadi lebih dari tiga minggu, bisa jadi penyebabnya adalah sleep apnea," tambahnya.
Sleep apnea atau penyumbatan saluran pernafasan bagian atas adalah gangguan kesehatan yang tak bisa diremehkan. Saat seorang anak berhenti bernafas selama beberapa detik dan beberapa kali di malam hari, asupan oksigen ke organ-organnya akan menurun dan tidurnya menjadi terganggu. Padahal kondisi tersebut dapat menyebabkan diabetes, tekanan darah tinggi, hiperaktivitas dan gangguan belajar.










































