Kamis, 28 Feb 2013 12:32 WIB

Jika Pedas Adalah Semacam Nyeri, Suka Sambal Berarti Masokis?

- detikHealth
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta - Bentuk masokisme sangat beragam, mulai dari menikmati penyiksaan saat bercinta hingga masokisme emosional yakni menikmati saat-saat perasaannya tersakiti. Ada pula bentuk masokisme yang dekat dengan keseharian, yakni suka sambal.

Alasan orang suka cabai atau sambal memang tidak sama pada setiap orang. Ada yang suka dengan alasan kesehatan, karena cabai mengandung capcaicin yang terbukti bisa mencegah tekanan darah tinggi, meningkatkan nafsu makan dan bahkan sebagai antibakteri.

Namun sebagian ilmuwan memberikan pandangan berbeda mengapa orang suka pedas. Yang jelas bukan karena rasanya, sebab pedas tidak termasuk dalam 4 rasa dasar seperti halnya asin, manis, pahit dan asam. Pedas lebih digolongkan sebagai bentuk rasa nyeri.

Jika pedas merupakan bentuk rasa nyeri, maka menikmati sambal atau makanan pedas berarti menikmati rasa nyeri. Demikian juga, masokisme didefinisikan sebagai gangguan kejiwaan yang membuat orang menikmati rasa sakit, atau minimal tidak menganggapnya sebagai satu masalah.

Dr Paul Rozin, seorang ilmuwan dari University of Pennsylvania mengklaim punya bukti bahwa menikmati pedasnya sambal adalah salah satu bentuk masokisme jinak. Dikutip dari NY Times, Kamis (28/2/2013), ia membuktikannya lewat sebuah eksperimen.

Dalam eksperimen itu, Dr Rozin menambahkan tingkat kepedasan pada suatu makanan, yang dihidangkan pada para penikmat sambal atau makanan pedas. Tingkat kepedasan dinaikkan terus hingga pada satu titik, para partisipan merasa kepedasan dan merasa tidak kuat melanjutkan.

Saat ditanya pada level mana rasa pedas itu terasa paling nikmat, mayoritas partisipan memilih satu level persis di bawah level yang tidak tertahankan. Pilihan tingkat kepedasan yang paling tinggi ini disimpulkan oleh Dr Rozin sebagai bentuk masokisme.

(up/vit)