Jumat, 01 Mar 2013 17:30 WIB

Studi: Optimis itu Baik Tapi Pesimis Jauh Lebih Sehat

- detikHealth
(Foto: Thinkstock) (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Secara garis besar, optimis tentulah lebih baik daripada pesimis karena optimis dapat memberikan motivasi tersendiri bagi seseorang untuk melakukan hal positif. Tapi bukan berarti pesimis itu buruk karena menurut sebuah studi baru pesimis justru lebih menyehatkan dan bikin panjang umur. Kok bisa?

Setelah mengamati 40.000 orang antara tahun 1993-2003, peneliti mendapati bahwa 'terlalu optimis' dalam memprediksi masa depan yang lebih baik erat kaitannya dengan risiko kelumpuhan dan kematian yang tinggi. Sebaliknya orang dewasa yang sering berpikir negatif dan selalu mengkhawatirkan masa depannya cenderung hidup lebih lama karena ekspektasi yang rendah terhadap 'masa depan yang memuaskan' justru menyebabkan hidup yang lebih sehat.

"Temuan kami mengungkapkan bahwa terlalu optimis dalam memprediksi masa depan yang lebih baik berisiko tinggi menyebabkan kelumpuhan dan kematian beberapa dekade kemudian," kata ketua tim peneliti, Frieder R. Lang seperti dilansir dari Daily Mail, Jumat (1/3/2013).

"Pasalnya pesimisme terhadap masa depan mendorong orang untuk hidup lebih hati-hati, serta cenderung mengambil tindakan pencegahan demi menjaga kesehatan dan keamanannya," tambahnya.

Partisipan dibagi ke dalam tiga kelompok usia (18-39; 40-64 dan 65 ke atas) dan ditanyai tentang seberapa puas partisipan terhadap kehidupannya dan seberapa puas prediksi partisipan dengan kehidupannya lima tahun lagi.

Lima tahun kemudian, seluruh partisipan disurvei kembali dan data tingkat kepuasan hidup partisipan yang diperoleh di awal dan di akhir studi dibandingkan.

43 Persen partisipan pada kelompok usia tertua (65 ke atas) memprediksi kepuasan hidup mereka di masa depan akan rendah. Sedangkan 25 persen lainnya secara akurat memprediksi masa depan mereka akan bahagia dan 32 persen sangat optimis akan bahagia di masa depan.

Namun yang tidak terduga, partisipan yang sangat optimis dengan masa depannya ditemukan mengalami peningkatan kelumpuhan hingga 9,5 persen. Risiko kematian mereka juga meningkat 10 persen.

Bahkan orang yang 'terlalu optimis' tentang masa depannya berisiko lebih tinggi mengalami kelumpuhan atau kematian dalam kurun waktu 10 tahun.

Tak hanya itu, studi yang sama juga menemukan bahwa orang yang pendapatannya tinggi cenderung berisiko tinggi mengalami kelumpuhan.

"Secara tak terduga, kami juga menemukan bahwa orang yang kehidupannya stabil, sehat dan gajinya tinggi justru berisiko mengalami penurunan kondisi kesehatan seperti kelumpuhan yang lebih besar daripada orang yang tak sehat atau pendapatannya rendah," pungkas Dr. Lang.





(vit/vit)