Stres Bisa Dideteksi Melalui Napas Lho

Stres Bisa Dideteksi Melalui Napas Lho

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Senin, 04 Mar 2013 12:00 WIB
Stres Bisa Dideteksi Melalui Napas Lho
(Foto: Thinkstock)
Jakarta -

Saat stres biasanya orang akan terlihat kurus atau lebih tua dari usia sebenarnya, tapi pada orang-orang tertentu, stresnya mungkin tidak kelihatan. Untuk itu, tim peneliti dari Inggris mencoba mendeteksi stres dari napas orang yang (diduga) menderita stres.

Untuk itu tim peneliti dari Loughborough University dan Imperial College London melibatkan 22 partisipan muda (10 pria dan 12 wanita) yang masing-masing ambil bagian dalam dua sesi percobaan: pertama, partisipan diminta untuk duduk senyaman mungkin dan mendengarkan musik yang tidak menyebabkan stres; kedua, partisipan diminta mengerjakan sebuah stres aritmetika mental yang telah dirancang khusus untuk memicu stres.

Kemudian sampel nafasnya diamati dengan menggunakan sebuah teknik yang disebut dengan gas chromatography-mass spectrometry dan dianalisis secara statistik. Setiap partisipan juga menjalani tes nafas sebelum dan setelah menjalani setiap sesi. Denyut jantung dan tekanan darah pun direkam oleh peneliti sepanjang jalannya kedua sesi.

Dari situ studi yang dipublikasikan dalam Journal of Breath Research ini mengungkap ada enam senyawa yang terkandung di dalam nafas yang dapat dijadikan indikator stres pada seseorang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dua senyawa diantaranya, 2-methyl pentadecane dan indole mengalami peningkatan saat partisipan melakukan sesi yang dapat menyebabkan stres (sesi kedua). Sebaliknya, empat senyawa lainnya terlihat dapat menurunkan stres, yang bisa jadi disebabkan oleh perubahan pola pernafasan.

"Jika kami dapat mengukur stres secara obyektif dengan cara yang non-invasif seperti ini, maka ini akan menguntungkan pasien dan orang yang rentan mengalami stres, terutama yang telah lama menjalani perawatan jangka panjang tapi tetap kesulitan menemukan respons stres pasien seperti pada penderita Alzheimer," ungkap ketua tim peneliti Profesor Paul Thomas.

"Hanya saja masih diperlukan studi lanjutan dengan jumlah partisipan yang lebih banyak sekaligus cakupan usianya lebih luas," lanjutnya.

Kendati begitu pemrofilan nafas (breath profiling) telah berkembang menjadi metode diagnosis yang menarik bagi para dokter, bahkan belakangan sejumlah pakar juga menemukan biomarker yang dikaitkan dengan penyakit seperti tuberculosis, berbagai jenis kanker, penyakit yang menyerang paru-paru dan asma dari pemrofilan nafas tersebut.

Namun sampai sekarang peneliti masih belum bisa menemukan cara yang tepat untuk mengelola faktor eksternal seperti pola makan, lingkungan dan kebiasaan olahraga sehingga dapat mempengaruhi sampel nafas seseorang.

"Ada kemungkinan lain bahwa penanda stres yang ada pada nafas itu dapat menyembunyikan bahkan mengacaukan senyawa kunci lain yang seharusnya dapat digunakan untuk mendiagnosis penyakit atau kondisi tertentu, jadi pemrofilan napas ini sangat penting untuk dilakukan," pungkas Profesor Thomas seperti dilansir dari health24, Senin (4/3/2013).

Asumsi awal peneliti adalah orang yang stres akan bernafas lebih cepat, dengan detak jantung dan tekanan darahnya pun meningkat sehingga cenderung mengubah profil napas mereka. Namun peneliti juga menekankan bahwa ini masih terlalu dini untuk menetapkan asal-usul biologis dan peranan senyawa-senyawa yang ditemukan studi ini sebagai bagian dari respons sensitif stres.

(/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads