Sejak lahir, kedua sisi otak wanita telah terkoneksi dengan baik sehingga mereka merasa nyaman dengan emosi yang mereka miliki, termasuk memahami emosi yang ditunjukkan orang lain. Tapi lain halnya dengan pria karena koneksi ini baru terbentuk dengan baik satu tahun pasca kelahirannya.
Dengan kata lain, wanita telah belajar bagaimana caranya membaca emosi sejak lahir, sedangkan pria tidak. Hal ini pulalah yang mendasari mengapa pria dan wanita kesulitan untuk melihat sudut pandang satu sama lain. Tentu saja hal ini memberikan pengaruh yang signifikan pada berbagai situasi, misalnya pada pernikahan maupun hubungan kerja di kantor.
Untuk itu, tim peneliti dari University of Edinburgh, Skotlandia mencoba menemukan alasan mengapa pria kesulitan membaca emosi yang terpampang pada wajah seseorang. Sekelompok partisipan pria dan wanita diperlihatkan beberapa foto bergambar wajah lalu setelah itu semua partisipan menjawab pertanyaan dari peneliti.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, seperti halnya dikutip dari mirror.co.uk, Senin (4/3/2013), pria butuh waktu lebih lama untuk menjawab pertanyaan tentang seberapa mudah mendekati orang-orang yang ada di foto-foto tersebut. Kendati akhirnya para pria mencapai kesimpulan yang sama atau memberi jawaban yang sama dengan partisipan wanita, peneliti dapat melihat bahwa pria tampak lebih kesulitan merumuskan pendapatnya.
Scan otak pada partisipan pria pun memperlihatkan adanya peningkatan aliran darah ke bagian otak yang digunakan untuk menafsirkan emosi. Menurut peneliti, itu artinya otak pria harus bekerja lebih keras saat dituntut untuk membuat sebuah keputusan sosial.
"Kendati begitu, temuan kami juga mengungkap karena kekurangmampuan para pria untuk berempati itu, mereka mencoba mengimbanginya dengan lebih mengaktifkan bagian otak yang memahami isyarat-isyarat sosial," pungkas ketua tim peneliti, Profesor Stephen Lawrie.
Menurut peneliti, studi yang dipublikasikan dalam jurnal PLoS ONE ini juga dapat memberikan petunjuk pengobatan baru bagi pengidap autisme yang seringkali kesulitan untuk membedakan berbagai emosi yang diperlihatkan orang-orang di sekitarnya.
Pasalnya ketika peneliti menggelar studi yang sama terhadap para pria pengidap autisme, peningkatan aliran darah ke bagian otak yang bertugas menafsirkan emosi tampak lebih tinggi dari yang ditemukan pada pria biasa atau bukan penyandang autisme.










































