Menurut peneliti, bencana alam dan stres yang berkepanjangan akan meningkatkan hormon yang mempengaruhi tekanan darah, kadar gula darah serta faktor lain yang cenderung membuat jantung bermasalah.
Kondisi tersebut juga kerap menimbulkan kemarahan dan ketidakberdayaan pada orang yang mengalaminya, termasuk memicu perilaku yang membahayakan jantung seperti makan atau minum secara berlebihan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dua tahun kemudian, seluruh partisipan dicek kembali kondisi kesehatannya. Hasilnya, 35 persen partisipan dengan PTSD mengalami resistensi insulin yang dapat berujung pada diabetes dan pengerasan pembuluh arteri. Sedangkan hanya 19 persen partisipan yang tidak memiliki PTSD yang juga mengalaminya.
Tak hanya itu, peneliti juga melihat tingginya kasus sindrom metabolik (sekumpulan faktor risiko penyakit jantung seperti lemak tubuh, kolesterol, tekanan darah dan kadar gula darah) pada partisipan.
Diketahui 53 persen veteran pengidap PTSD juga mengalami sindrom metabolik, padahal pada veteran yang tidak mengidap gangguan tersebut besarnya hanya 37 persen.
"Tapi angka-angkanya hanyalah perkiraan dan tidaklah sepenting trennya. Yang penting adalah makin tinggi stresnya begitu juga dengan risiko masalah jantungnya. Dengan kata lain PTSD dapat menyebabkan gejala gangguan fisik, tak hanya gangguan mental seperti yang selama ini dikait-kaitkan dengannya," terang ketua tim peneliti Dr. Ramin Ebrahimi, dokter spesialis jantung di Greater Los Angeles VA Medical Center dan seorang profesor di UCLA.
"Lagipula 20-30 tahun yang lalu PTSD hanya dikaitkan dengan veteran perang. Tapi sekarang kita harus menyadari bahwa PTSD merupakan gangguan yang bisa dialami siapapun, bahkan pada veteran yang tak pernah terjun ke medan perang tapi memiliki pengalaman traumatis seperti kehilangan salah seorang sahabatnya," tambahnya seperti dilansir dari nbcnews, Rabu (13/3/2013).
Kondisi yang sama juga ditemukan pada orang-orang yang mengalami trauma lainnya seperti diperkosa, dirampok di bawah todongan senjata atau kecelakaan serius, termasuk korban Badai Katrina tahun 2005 yang melanda New Orleans.
Menurut keterangan tim dokter dari Tulane Medical Center, kasus serangan jantung yang terjadi di New Orleans tiga kali lebih tinggi daripada dua tahun sebelum bencana alam itu terjadi. Secara menyeluruh, kasus pasien baru yang masuk UGD akibat serangan jantung mencapai 2,4 persen dalam enam tahun pasca terjadinya bencana alam padahal pada tahun-tahun sebelumnya besarnya hanya 0,7 persen.
Peneliti juga menemukan pasien korban Katrina juga lebih cenderung menjadi pengangguran atau tak memiliki asuransi, merokok, depresi, mudah cemas serta memiliki kadar kolesterol tinggi.










































