Kamis, 21 Mar 2013 16:30 WIB

Dosis Tinggi Penurun Kolesterol Bisa Tingkatkan Risiko Kerusakan Ginjal

- detikHealth
(Foto: ThinkStock)
Jakarta - Konsumsi obat penurun kolesterol telah dikaitkan dengan berbagai efek samping seperti nyeri otot dan masalah hati. Kini penelitian terbaru menambahkan bahwa dosis tinggi obat tersebut dapat meningkatkan risiko kerusakan ginjal.

Sebuah studi menemukan bahwa orang yang mengambil obat penurun kolesterol, yang disebut statin dalam dosis tinggi, memiliki peningkatan risiko hingga 34 persen dirawat di rumah sakit karena cedera ginjal selama 120 hari pertama pengobatan, dibandingkan dengan orang lain yang mengambil dosis rendah.

Ternyata risiko tersebut juga tetap meningkat sampai 2 tahun setelah memulai pengobatan kolesterol. Hasil penemuan ini dipublikasikan secara online dalam jurnal BMJ pada tanggal 19 Maret, seperti ditulis Everyday Health, Kamis (21/3/2013).

Statin memang telah dikenal luas diresepkan untuk menurunkan kadar kolesterol dalam darah dan terbukti sangat efektif. Akan tetapi juga diketahui memiliki efek samping, terutama kerusakan hati dan nyeri otot atau kelemahan. Sehingga, dokter merekomendasikan untuk melakukan tes enzim hati terlebih dahulu sebelum mulai mengambil statin.

Peneliti dari Kanada menganalisis catatan kesehatan lebih dari 2 juta orang berusia 40 tahun atau lebih tua dengan atau tanpa penyakit ginjal yang juga mengambil statin. Dosis tinggi statin termasuk rosuvastatin (Crestor) pada dosis lebih dari 10 miligram (mg), atorvastatin (Lipitor) pada dosis lebih dari 20 mg, dan simvastatin (Zocor) pada dosis lebih dari 40 mg.

"Pasien yang menggunakan dosis tinggi statin dikaitkan dengan peningkatan risiko kerusakan otot, selain itu penelitian juga membuktikan bahwa hal ini dapat memblokir produksi koenzim Q10 (zat dalam tubuh yang membantu memecah makanan), yang secara teoritis dapat menyebabkan cedera ginjal," kata Colin Dormuth, penulis studi yang merupakan ahli epidemiologi di University of British Columbia.

Menanggapi hasil penemuan tersebut, peneliti menyatakan bahwa jika seseorang khawatir terhadap kondisi ginjalnya setelah mengonsumsi statin, dirinya dapat berkonsultasi dengan dokter dan melakukan tes darah.

Tanda-tanda kerusakan ginjal dapat mencakup urine berwarna gelap, kesulitan buang air kecil atau jarang buang air kecil. Seseorang yang berada dalam dosis tinggi statin dan memiliki masalah dengan buang air kecil, segeralah menghubungi dokter.

"Alih-alih mengambil statin dalam dosis tinggi, Anda dapat menggunakan dosis rendah statin bersama dengan jenis lain dari obat penurun kolesterol," jelas Dr. Suzanne Steinbaum, seorang ahli kardiologi di Lenox Hill Hospital, New York.

Akan tetapi jangan berhenti minum statin secara tiba-tiba tanpa berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu. Dokter mungkin akan menurunkan dosisnya secara perlahan agar aman untuk ginjal Anda.




(vit/vit)