"Ada yang disebut dengan insting saluran cerna. Penelitian menemukan hubungan antara saluran cerna dengan otak. Makanan yang kita makan dan bakteri yang ada di dalam saluran cerna cukup kuat mempengaruhi perilaku manusia," kata Prof. Dr. M. Juffrie, SpA.(K) Ph.D, Kepala Subdivisi Gastronepatologi Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.
Dalam acara launching 'Happy Tummy Council' yang digelar Nestle Nutrition di Hotel JW Marriot Jakarta, Senin (25/3/2013), prof Juffrie menjelaskan bahwa saluran pencernaan yang sehat sangat mempengaruhi kinerja otak yang kuat. Salah satu faktor penting bagi kesehatan pencernaan adalah adanya mikrobium di dalam pencernaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saluran cerna, sensori dan otak itu ada hubungannya. Contohnya, orang yang merasa jengkel bisa jadi mual. Orang yang merasa sakit perut juga indra sensorinya jadi tidak baik," terang dr Dr. Ahmad Suryawan, SpA(K), Ketua Divisi Tumbuh-Kembang Anak RS Dr. Sutomo, Surabaya.
Dr Suryawan menjelaskan, otak membutuhkan energi agar dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Saluran cerna tak hanya berfungsi menyerap zat gizi, melainkan berkomunikasi dua arah melalui mekanisme tertentu yang disebut gut-brain axis. Jadi sistem saraf memberi mengatur kinerja saluran cerna, sedangkan saluran cerna memberi nutrisi untuk perkembangan otak.
"Saking pentingnya, sampai ada istilah 'Gut is a second brain', perut adalah otak kedua manusia," terang dr Suryawan.
(pah/)










































