Silikon merupakan unsur bentukan alam yang mempunyai bermacam-macam rantai kimia. Jika rantai kimia tersebut berubah, maka tidak bisa lagi digunakan untuk tujuan medis.
"Silikon cair bukan untuk orang tapi mesin, karena rantainya sudah berubah," tegas dr. Irena Sakura Rini, MARS, SpBP-Re, Sekjen Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik Indonesia (PERAPI), dalam acara Temu Media 'Keselamatan Pasien dalam Bedah Plastik: Apa yang Harus Dicermati dalam Memutuskan Tindakan Bedah Plastik?', di Gran Melia Hotel, Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, Kamis (2/5/2013).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu silikon cair langsung disuntik ke hidung, langsung deh mancung. Bayarnya cuma 100 ribu. Tapi 3 tahun kemudian, hidungnya akan jatuh karena gravitasi bumi. Nah, baru orang-orang ini mencari dokter bedah plastik," tambah dokter yang berpraktik di Rumah Sakit Kanker Dharmais, Jakarta.
Seringkali setelah tubuhnya menjadi 'amburadul' akibat silikon cair, pasien baru mencari bantuan dokter bedah plastik. Padahal diakui dr Ira, untuk menangani kasus seperti ini tidaklah mudah dan kebanyakan hasilnya tidak bisa kembali normal.
"Ibaratnya, pas datang pasien yang hidungnya panjang-panjang, kalau ada pasien lain mending yang lain aja. Karena itu memang tidak mudah. Dan tidak ada hidung yang selamat (akibat silikon cair)," jelasnya.
Untuk itu, dr Ira menghimbau agar masyarakat tidak mudah tergiur janji-janji manis yang bisa membuat wajah cantik secara instan. Terlebih bila bukan dilakukan oleh dokter bedah plastik yang legal.
(mer/up)










































