Penggunaan Narkoba (Narkotika dan Bahan BerbahayLlainnya) suntik adalah salah satu faktor risiko penularan HIV (Human Imunnodeficiency Virus). Tidak mengejutkan bila 38 dari 927 narapidana yang menghuni Lembaga Pemasyarakatan Cirebon juga terinfeksi virus tersebut.
"Dari 927 napi, ada 38 yang terinfeksi HIV. Ada juga 8 napi yang TB (tuberculosis) dan bahkan 1 MDR-TB (multi drug resistance TB)," kata dr Pepen Zaelani, dokter Lapas Cirebon dalam media tour di Lapas Cirebon, Selasa (21/5/2013).
Sebagai pengguna narkoba suntik, sebagian besar narapidana penghuni Lapas ini memang berisiko tinggi tertular HIV. Oleh karenanya, di Lapas ini juga disediakan program rehabilitasi dengan metadon, yakni sejenis narkoba yang tidak perlu disuntikkan. Bukan untuk mabuk-mabukan, melainkan untuk mengatasi gejala putus obat atau sakaw bagi yang belum bisa lepas dari kecanduan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sejauh ini belum ditemukan kasus baru di sini, artinya tidak terjadi penularan selama berada di Lapas. Kebanyakan datang sudah dengan status HIV positif," sambung dr Pepen.
Salah seorang napi, sebut saja Budi, juga baru mengetahui dirinya terinfeksi HIV saat masuk Lapas. Ia sudah bertahun-tahun menggunakan narkoba suntik, namun tidak pernah memeriksakan diri sehingga tidak pernah tahu kalau terinfeksi.
"Saya nyuntik, makai (narkoba) apa saja sejak 2005. Masuk Lapas tahun 2010, waktu itu saya dites dulu dan ternyata positif HIV. Belum pernah sampai sakit parah sih, paling berat cuma bisul tidak sembuh-sembuh," kata pria 31 tahun yang sudah 2,5 tahun menghuni Lapas ini.
Sebagai bagian dari upaya penanggulangan HIV, Lapas Cirebon juga menyediakan layanan VCT (Voluntary and Counseling Test) atau tes dan konseling HIV secara sukarela. Layanan ini digelar sebulan sekali dan selalu ramai dikunjungi para narapidana.
(up/)










































