Belasan orang, Rabu (22/5/2013), menyambangi Terminal Tirtonadi, Solo. Mereka mendekati dan mengajak bicara sejumlah orang yang ditemuinya. Meskipun sebelumnya terlihat tidak saling mengenal, namun pembicaraan terkesan lancar dan bahkan terlihat cair. Yang diajak bicara juga bisa memahami dan mengikuti saran yang diberikan.
Yang diajak bicara itu adalah awak bus yang sedang istirahat, para penumpang maupun para penjual di lingkungan terminal. Semua yang didekati di berbagai sudut itu ternyata sedang melakukan yang sama, yakni merokok.
Belasan orang dari Rumah Zakat itu memang sedang melakukan kampanye antirokok. Semua perokok dihimbau untuk menghentikan atau setidaknya mengurangi konsumsi rokok. Bukan hanya himbauan lisan, para aktivis itu juga membagikan selebaran yang berisi bahaya rokok untuk kesehatan manusia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai penghargaan untuk setiap perokok yang mematikan rokoknya, para relawan kemudian memberikan susu botol dan permen. Bukan alasan bila rokok ditukar dengan susu botol, sebab minum susu tentunya jauh lebih sehat dibandingkan menghisap rokok.
Program Head Kesehatan Rumah Zakat Surakarta, Joko Adianto, menegaskan kampanye antirokok itu untuk mengedukasi warga karena jumlah perokok yang terus meningkat. "Target kami hari ini 500 perokok akan kami datangi untuk disarankan berhenti merokok," ujarnya.
Setelah berkampanye dan 'sweeping' perokok di terminal, mereka meneruskan kampanye di area publik lainya seperti di kawasan traffic light. Tak hanya ngomong, mereka juga membentangkan spanduk bertuliskan pesan bahaya merokok serta membawa replika rokok ukuran besar yang diberi tulisan 'Maraiboros'.
"Kami juga sedang menjalin kerjasama dengan Dinas Kesehatan Surakarta dalam program bersama membina kampung bebas rokok. Kami sudah menetapkan kampung Ngemplak di Kelurahan Mojosongo, sebagai pilot project kampung bebas rokok," kata Joko Adianto.
(/)










































