Selasa, 28 Mei 2013 12:09 WIB

Obat Hiperaktif Disalahgunakan Siswa Biar Otak Encer Menjelang Ujian

- detikHealth
ilustrasi (Foto: Thinkstock) ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Jika ada obat yang namanya pil pintar atau jamu pembuat otak encer, mungkin produk semacam ini sudah laris di pasaran, terutama saat menjelang ujian. Sayangnya tak ada obat untuk tujuan instan seperti itu. Tak habis akal, para siswa di AS malah menggunakan obat untuk anak hiperaktif.

Sebuah survei di AS mengungkapkan bahwa banyak orang tua tak menyadari bahwa anak-anaknya menggunakan obat tertentu untuk membantunya berkonsentrasi saat belajar. Obat-obatan tersebut adalah Adderall dan Ritalin, obat untuk mengatasi gangguan ADHD (attention deficit hyperactivity disorder).

Survei tersebut berjudul 'C.S. Mott Children’s Hospital National Poll on Children’s Health'. Yang menjadi target survei adalah orang tua dari anak-anak yang berusia 13 - 17 tahun. Sekitar 11 persen orang tua mengatakan bahwa anak-anak remajanya diresepkan obat stimulan untuk mengatasi ADHD.

Di antara orang tua anak-anak yang tidak diresepkan obat ADHD, hanya sekitar 1 persen saja yang mengatakan anaknya meminum obat ini untuk tujuan belajar. Sekitar 4 persen orang tua mengatakan tidak tahu menahu apakah anaknya menyalahgunakan obat dan 95 persen sisanya mengatakan anaknya belum pernah menyalahgunakan obat-obatan.

"Penyalahgunaan obat bisa berisiko bahaya. Penggunaan obat stimulan oleh anak-anak tanpa ADHD dapat menyebabkan kelelahan akut, detak jantung yang abnormal dan jika ia menjadi kecanduan dan mulai sakau, dia bisa menjadi bingung dan mengalami gejala psikosis," kata dr Matthew Davis, dokter anak sekaligus direktur survei.

Hasil survei menemukan bahwa hanya sedikit orang tua yang tahu anaknya mengkonsumsi obat ini. Padahal kenyataannya, persentase remaja yang menggunakan obat lebih besar. Misalnya sebuah penelitian di tahun 2012 menemukan bahwa sekitar 10 persen mahasiswi dan 12 persen pelajar SMA mengaku menggunakan obat-obat tersebut tanpa resep.

Para remaja ini umumnya minum obat stimulan untuk mempermudah belajarnya saat menjelang ujian atau agar tetap terjaga untuk menggarap PR. Karena sejatinya obat tersebut diresepkan untuk gangguan ADHD, mereka memperoleh obat tersebut dari teman atau berpura-pura memiliki gejala ADHD agar mendapat resep obatnya.

Seperti dikutip dari Washington Post, Selasa (28/5/2013), banyaknya orang tua yang tidak menyadari jika anaknya menggunakan obat tersebut diduga karena efek yang ditimbulkan obat sangat samar, setidaknya jika dibandingkan heroin atau kokain. Hal ini mempermudahkan para siswa untuk tidak berterus terang akan penggunaan obatnya.



(pah/up)
News Feed