Dukungan terhadap pelarangan iklan dan sponsor rokok menjadi fokus peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tahun ini. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyoroti banyaknya generasi muda yang terpapar iklan rokok kemudian terpengaruh.
WHO SEARO (South-East Asia Region) dalam rilisnya mengungkap, 3 dari 4 anak usia 13 hingga 15 tahun terpapar oleh pesan-pesan pro-rokok melalui billboard. Pesan-pesan serupa juga didapat dari kegiatan olahraga atau kegiatan lain yang disponsori rokok.
"Iklan-iklan tersebut telah terbukti mempengaruhi mereka untuk mulai merokok," demikian seperti dikutip dari rilis resmi yang diterima detikHealth, Selasa (28/5/2013).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Statistik menunjukkan bahwa larangan iklan dan sponsor tembakau adalah salah satu cara paling efektif untuk mengurangi permintaan rokok," pesan direktur regional WHO SEARO, Dr Samlee Plianbangchang.
"Pelarangan yang komprehensif terhadap segala bentuk iklan, promosi dan sponsorship tembakau bisa mengurangi konsumsi tembakau rata-rata sekitar 7 persen, dengan beberapa negara mengalami penurunan konsumsi hingga 16 persen," lanjutnya.
Riset yang dilakukan WHO SEARO menunjukkan bahwa 1 dari 10 pelajar di Asia Tenggara memiliki benda yang mencantumkan logo sebuah merek rokok dan 1 dari 10 pelajar pernah diberi rokok gratis oleh perusahaan rokok. Tak cuma itu, 7 dari 10 pelajar juga menjumpai merek rokok saat menonton tayangan olahraga di televisi.
(pah/mer)











































