Demi menjaga kesehatan, sebagian besar pakar menyarankan untuk mengadopsi pola makan yang seimbang yaitu kombinasi antara karbohidrat, protein seperti daging, sayur, dan buah. Namun sebuah studi baru mengungkapkan bahwa menjadi vegetarian itu lebih menyehatkan dan bikin panjang umur.
Secara rinci studi ini mengatakan bahwa orang-orang yang membatasi asupan daging yang mereka konsumsi serta bergantung pada konsumsi buah-buahan dan sayuran berpeluang lebih kecil untuk meninggal dalam jangka waktu tertentu.
"Saya kira temuan ini menambah bukti yang menunjukkan adanya efek positif dari diet ala vegetarian dalam mencegah penyakit kronis serta memperpanjang umur," tandas Dr. Michael Orlich, ketua tim peneliti dari Loma Linda University, California, AS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di awal studi, partisipan ditanyai tentang kebiasaan makan mereka dan dibagi ke dalam beberapa kategori berdasarkan frekuensi partisipan ketika mengonsumsi susu, telur, ikan dan daging.
Secara keseluruhan, 8 persen partisipan merupakan vegetarian yang tidak mengonsumsi daging sama sekali sedangkan 29 persen lainnya tergolong ke dalam lacto-ovo-vegetarian yang tidak mengonsumsi ikan atau daging tapi tetap minum susu dan makan telur. 15 persen partisipan terkadang makan daging, termasuk ikan-ikanan.
Setelah itu, peneliti menggunakan database nasional untuk mengetahui berapa banyak partisipan yang meninggal terhitung hingga tanggal 31 Desember 2009. Ternyata diketahui tujuh orang meninggal (dengan sebab apapun) per 1.000 orang yang makan daging setiap tahunnya. Padahal tingkat kematian vegetarian hanya 5-6 kasus per 1.000 vegetarian setiap tahunnya.
Uniknya, pria mendapat manfaat terbesar dari pola makan berbasis tanaman tersebut.
Namun seperti dilansir Reuters, Rabu (5/6/2013), Orlich memperingatkan bahwa mereka tak dapat mengatakan jika mengadopsi pola makan ala vegetarian akan mencegah seseorang dari kematiannya, karena mungkin ada faktor-faktor lain yang tak diukur dalam studi ini.
Lalu perlukah setiap orang beralih menjadi vegetarian? Dr. Robert Baron yang menuliskan editorial untuk studi baru yang dipublikasikan dalam JAMA Internal Medicine ini mengatakan, "Saya kira tidak setiap orang perlu menjadi seorang vegetarian, tapi jika mereka menginginkannya, studi ini menunjukkan bahwa efeknya positif terhadap kesehatan," tukas Baron, profesor ilmu kedokteran dari University of California, San Francisco.
Jika tidak, Baron menyarankan untuk lebih membatasi penggunaan gula tambahan, refined grains atau biji-bijian olahan dan lemak jenuh, termasuk mengonsumsi susu, telur, ikan dan daging dalam jumlah sedang.
(/)










































