"Bisa jadi anak-anak justru berpotensi mendapatkan manfaat yang lebih besar dari prosedur ini karena prosedur ini dapat menumbuhkan kembali saraf-saraf pasien anak dengan lebih cepat, apalagi anak-anak kan lebih banyak bermasalah dengan tangan prostetik atau buatan," terang Dr. Amir Taghinia yang ditunjuk memimpin program ini di Boston Children's Hospital.
Selama ini baru satu kasus transplantasi tangan yang diketahui dilakukan pada anak-anak yaitu pada seorang bayi di Malaysia di tahun 2000. Karena pendonornya adalah anak kembar yang meninggal saat dilahirkan, pasien bayi perempuan ini pun tak perlu mengonsumsi obat-obatan tertentu untuk mencegah penolakan organ yang didonorkan kepadanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami paham betul dengan adanya tekanan kekebalan ini tapi risikonya pada anak-anak sebenarnya tak sebesar yang dibayangkan. Lagipula prosedur ini takkan dilakukan jika kondisinya sudah gawat darurat, jadi keluarga masih memiliki banyak kesempatan untuk mempertimbangkan opsi lainnya," kata Dr. Simon Horslen, direktur medis dari program transplantasi usus dan hati dari Seattle Children's Hospital, menanggapi program ini.
Yang tak kalah menguntungkan, Horslen mengatakan jika donor tangan ditolak oleh tubuh si resipien maka organ tersebut dapat dilepaskan kembali dan hal itu takkan membuat kondisi pasien menjadi lebih buruk daripada sebelum menjalani transplantasi. Tim dokter mengungkapkan kandidat penerima donor tangan potensial, misalnya anak-anak yang terlahir tanpa tangan, anak yang kehilangan tangan dalam insiden kecelakaan dan anak penderita infeksi yang menyebabkan kedua tangannya harus diamputasi.
Pentingnya program transplantasi ini didasarkan pada fakta bahwa kualitas hidup merupakan perhatian utama bagi orang-orang yang kehilangan lengan dan tangannya. "Apalagi untuk anak-anak yang kehilangan kedua tangannya, kualitas hidupnya menjadi isu penting yang tak bisa diabaikan," timpal pakar lain, Dr. Douglas Diekema dari Center for Pediatric Bioethics, Seattle Children's Hospital.
"Terutama dalam kaitannya dengan bagaimana kita berinteraksi dengan dunia sosial, karena yang paling banyak kita libatkan adalah wajah dan kedua tangan kita. Itulah mengapa kemudian tim dokter merasa perlu menawarkan transplantasi tangan kepada keluarga si pasien anak," lanjut anggota komite etik American Board of Pediatrics tersebut.
Sebagai langkah awal realisasi program ini, Boston Children's Hospital berencana melakukan prosedur transplantasi tangan pada anak-anak sehat berusia 10 tahun ke atas yang kehilangan kedua tangannya. "Beberapa di antara mereka tak bisa makan sendiri, ke kamar mandi sendiri, dan seseorang harus mendampingi mereka untuk melakukan hampir semua aktivitas hariannya," ujar Taghinia seperti dilansir CBSNews, Selasa (18/6/2013).
Rumah sakit ini juga akan mempertimbangkan transplantasi bagi anak-anak yang kehilangan satu tangan dan tengah mengonsumsi obat-obatan penahan kekebalan karena menjalani transplantasi organ lainnya, atau anak-anak yang hanya mempunyai satu tangan namun tak dapat berfungsi dengan baik.
Taghinia pun menuturkan seluruh biaya operasi akan ditanggung oleh rumah sakit, berikut perawatan selama tiga bulan pasca operasi. Baru kemudian asuransi diminta menanggung biaya untuk obat-obatan penahan kekebalan yang dikonsumsi pasien dan follow-up-nya.











































