"Ukuran partikel menentukan bioaksesibilitas energi dari makanan yang dikonsumsi. Jadi semakin lama Anda mengunyah, semakin kecil partikel makanan yang hilang dan semakin banyak yang berhasil terserap di dalam tubuh," tandas peneliti Dr Richard Mattes, profesor makanan dan gizi dari Purdue University, West Lafayette, Ind.
Tapi Mattes tak memungkiri jika setiap individu memiliki kebiasaan mengunyah yang berbeda-beda. Dan meski sulit untuk mengubah kebiasaan tersebut, namun dengan adanya temuan ini orang-orang diharapkan berkenan mempertimbangkan perubahan kebiasaan mengunyah demi memperoleh energi ekstra dari makanan pilihannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari situ diketahui bahwa semakin sedikit kunyahannya, semakin besar partikel makanan yang dieliminasi dari dalam tubuh. Sebaliknya, jika jumlah kunyahannya semakin banyak, partikel yang lebih kecil jadi lebih mudah diserap ke dalam tubuh.
"Jadi jika Anda ingin memasukkan makanan yang enak sekaligus memberikan kontribusi berupa asupan protein, maka almond bisa jadi pilihan utama. Namun jika Anda tertarik untuk memaksimalkan asupan vitamin E, almond yang sudah dipotong-potong, mentega almond atau minyak almond dapat dijadikan alternatif," saran Mattes seperti dilansir Health24, Kamis (18/7/2013).
Mattes menambahkan kombinasi serat dari buah-buahan, sayuran dan biji-bijian utuh juga berada di puncak chart sumber makanan berenergi tinggi.
"Bahkan jika diet total Anda mengandung serat tinggi, akan semakin banyak lemak yang hilang. Sebab serat mengikatkan dirinya dengan asam lemak untuk menciptakan sumber energi utama di dalam tubuh," tuturnya.










































