Awas, Pasien Sakit Gula Dihadang Risiko Kelumpuhan yang Tinggi

Awas, Pasien Sakit Gula Dihadang Risiko Kelumpuhan yang Tinggi

- detikHealth
Kamis, 25 Jul 2013 14:31 WIB
Awas, Pasien Sakit Gula Dihadang Risiko Kelumpuhan yang Tinggi
(Foto: Thinkstock)
Jakarta - Penderita diabetes kronis biasanya juga mengalami sejumlah efek samping seperti rambut mudah rontok, luka sulit sembuh atau sering beser. Namun sebuah review terbaru menemukan pasien diabetes juga berisiko lebih tinggi mengalami kelumpuhan dibandingkan bukan pasien diabetes.

Bahkan menurut peneliti risiko kelumpuhan yang dialami pasien diabetes mencapai 50-80 persen. Kelumpuhan atau ketidakmampuan melakukan aktivitas yang dimaksud mencakup susah berjalan, penurunan kemampuan untuk menggunakan telepon/ponsel, mengurus keuangan, berbelanja hingga mandi, berpakaian dan makan sendiri.

"Kami menemukan bahwa sakit gula meningkatkan risiko kelumpuhan seseorang 50-80 persen lebih tinggi daripada orang-orang yang tidak mengidap diabetes, dan temuan ini terbukti konsisten terhadap berbagai jenis kelumpuhan," ungkap peneliti senior Anna Peeters.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun kepala divisi kesehatan populasi dan obesitas dari Baker IDI Heart and Diabetes Institute, Melbourne, Australia itu mengaku tak tahu-menahu bagaimana diabetes bisa berkontribusi terhadap peningkatan risiko kelumpuhan. Hanya saja ketika peneliti melibatkan sejumlah faktor seperti obesitas dan gaya hidup sedenter untuk menganalisis penyebab kontribusi ini, peneliti masih menemukan keterkaitan antara diabetes dengan risiko kelumpuhan.

"Bisa jadi peradangan yang berkaitan dengan tingginya kadar gula darahlah yang berkontribusi terhadap terjadinya kelumpuhan, atau mungkin saja komplikasi diabetes seperti penyakit jantung, gangguan ginjal dan amputasi salah satu bagian tubuh juga menambah risiko kelumpuhan pasien diabetes," terang Peeters seperti dilansir Health.com, Kamis (24/7/2013).

Untuk memastikan risiko yang sebenarnya menghadang pasien diabetes, Peeters dan rekan-rekannya pun mereview data dari 26 studi yang membandingkan risiko kelumpuhan pada pasien diabetes dan orang sehat atau tidak mengidap sakit gula.

Dalam laporan studi yang dipublikasikan jurnal The Lancet Diabetes and Endocrinology ini, peneliti mengungkapkan bahwa beberapa studi tentang risiko kelumpuhan pada pasien diabetes yang mereka amati memiliki hasil beragam. Ada yang tidak menemukan keterkaitan antara kedua, tapi ada juga yang mengatakan bahwa diabetes melipatgandakan risiko kelumpuhan seseorang.

Dari situ peneliti menemukan peluang pasien diabetes untuk mengalami kelumpuhan mobilitas seperti susah berjalan 71 persen lebih tinggi dibandingkan orang-orang tanpa diabetes. Kemudian peluang pasien diabetes untuk bermasalah ketika menggunakan telepon/ponsel, berbelanja atau mengendarai transportasi tertentu tercatat 65 persen lebih tinggi.

Terakhir, pasien diabetes berpeluang 82 persen lebih tinggi untuk susah makan, berpakaian dan mandi sendiri.

Selain itu, menurut Peeters, sejumlah studi juga cenderung mengamati efek manajemen diabetes terhadap risiko kelumpuhan, jadi peneliti belum dapat memastikan apakah pengelolaan penyakit yang baik dapat memberikan perlindungan tersendiri bagi pasien agar tidak mengalami kelumpuhan.

Namun pada beberapa studi yang mengamati manajemen diabetes, rendahnya kesadaran untuk mengontrol kadar gula darah tampaknya dapat meningkatkan risiko kelumpuhan.

"Kami sepakat bahwa pengendalian penyakit yang baik dapat menurunkan risiko berbagai komplikasi utama yang diketahui dari diabetes. Padahal komplikasi-komplikasi itulah yang pada akhirnya berkaitan dengan kelumpuhan yang terjadi di masa depan. Itulah mengapa manajemen diabetes yang baik dianggap dapat menurunkan risiko pasien untuk mengalami kelumpuhan," pungkasnya.



(vit/vit)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads