Peneliti di Massachusetts menumbuhkan sejumlah sel tulang rawan yang diperlukan untuk menyesuaikan model kustom di bawah kulit tikus percobaan. Kemudian kawat ditambahkan ke cetakan untuk memberi implan bentuk dan membuatnya menekuk hingga lentur seperti telinga manusia.
Kini, para ilmuwan sedang bersiap untuk melakukan uji klinis terhadap terlinga buatan itu dengan harapan mereka dapat menggunakannya dalam operasi transplantasi. Dengan penyesuaian teknologi, peneliti mengklaim bahwa mereka bisa menggunakan proses untuk menghasilkan telinga yang menyerupai asli untuk para pasien dalam skala waktu yang cepat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Model yang dihasilkan kemudian dicetak dan digunakan dalam polydimethylsiloxane, senyawa silikon khusus untuk membuat cetakan yang kemudian dibagi di sepanjang kontur luar sehingga menjadi dua bagian. Menurut peneliti, model telinga buatan itu memiliki kapasitas yang cukup dalam kurva dan garis bahkan ketika akan diberi satu lapisan kulit.
"Semua implan itu ditoleransi dengan baik. Implan dengan kawat akan menyerupai telinga manusia, sedangkan implan yang tidak menggunakan kawat akan diratakan dan terdistorsi" kata Cervantes seperti dilansir Daily Mail, Kamis (1/8/2013).
Ia menambahkan, permukaan telinga buatan tersebut putih, berkilau, dan sangat mirip dengan tulang rawan. Konstruksi dengan kerangka kawat yang tertanam bisa membuat ukuran dan bentuk telinga lebih paten dibanding dengan yang tidak menggunakan kerangka.
Sebelumnya, tim peneliti juga pernah melakukan bukti konsep penelitian dengan menggunakan sel-sel tulang rawan tikus yang diletakkan dalam cetakan kolagen berbentuk telinga. Tapi, ini hanya dianalisis dalam bentuk 2D.
"Teknologi ini sedang dikembangkan untuk melakukan uji klinis. Dengan demikian kami telah meningkatkan dan mendesain ulang fitur yang menonjol untuk mencocokkan ukuran telinga manusia dewasa dan mempertahankan penampilan estetika setelah implantasi telinga dilakukan," kata para peneliti.
Mereka juga menggunakan metode-metode yang lebih ketat untuk menganalisis bertahannya bentuk telinga setelah implantasi. Hasil analisis yang berbentuk kuantitatif menurut para peneliti juga bisa mengidentifikasi peluang untuk memperbaiki ketahanan bentuk dari telinga buatan tersebut.
Setiap tahun ribuan anak terlahir dengan kelainan bawaan yang disebut microtia, yaitu telinga eksternal mereka belum sepenuhnya berkembang. Banyak yang memiliki telinga utuh tapi kehilangan pendengaran karena struktur eksternal yang hilang.
Temuan ini sudah dipublikasikan di Journal of the Royal Society Interface.
(/)










































