Punya Risiko Kanker Paru? Tangkal dengan Mengunyah Bawang Putih

Punya Risiko Kanker Paru? Tangkal dengan Mengunyah Bawang Putih

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Senin, 12 Agu 2013 08:07 WIB
Punya Risiko Kanker Paru? Tangkal dengan Mengunyah Bawang Putih
Foto: Ilustrasi/ Thinkstock
Jakarta - Kanker paru termasuk salah satu kanker yang paling mematikan dan susah terdeteksi karena tidak menampakkan gejala hingga terlanjur parah. Bagi yang punya risiko, mengunyah bawang putih mentah bisa menurunkan risiko hingga 44 persen.

Penelitian terbaru di China menunjukkan bahwa bawang putih mentah punya efek menangkal berbagai gangguan kesehatan, termasuk penyakit-penyakit kronis dan kanker paru. Para peneliti meyakini bahwa manfaat itu berhubungan dengan kandungan allicin.

Senyawa allicin merupakan senyawa yang dilepaskan oleh bawang putih mentah saat dicacah ataupun dihancurkan. Di dalam tubuh, senyawa tersebut akan mencegah inflamasi atau radang dan mencegah kerusakan akibat radikal bebas pemicu kanker maupun penyakit kronis lainnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam penelitian ini, para ilmwuan dari Jiangsu Provincial Center for Disease Control and Prevention mengamati 1.424 pasien kanker paru dan 4.500 orang dewasa sehat sebagai pembandingnya. Hasilnya, risiko kanker paru pada orang-orang yang rutin makan bawang putih mentah terbukti lebih rendah.

Penurunan risiko kanker paru terjadi pada semua partisipan yang mengonsumsi bawang putih mentah. Namun jika dirinci, partisipan yang tidak merokok mengalami penurunan lebih besar yakni 44 persen sedangkan jika punya kebiasaan merokok maka penurunannya cuma 30 persen.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa bawang putih juga mengurangi risiko kanker usus. Penelitian di University of South Australia tersebut menunjukkan bwah salah satu senyawa dalam bawang putih bisa menekan gejala pilek dan mencegah inflamasi.

"Efek perlindungan dari bawang putih terhadap kanker telah dilaporkan dalam uji in vitro (di laboratorium) maupun in vivo (dalam tubuh manusia langsung). Bagaimanapun beberapa studi epidemologis masih mengkaji hubungannya," tulis para ilmuwan seperti dikutip dari Foxnews, Senin (12/8/2013).

(up/vit)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads