Rabu, 21 Agu 2013 14:59 WIB

Lebih Baik Mana, Memerah ASI dengan Pompa atau Tangan?

- detikHealth
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Hingga bayi berusia enam bulan, makanan terbaik baginya adalah ASI. Selain bisa diberikan secara langsung, ASI juga bisa diperah sebagai alternatif terutama bagi ibu yang bekerja. Tak jarang, saat memerah ASI, ibu sering menggunakan bantuan pompa padahal lebih dianjurkan jika ibu memerah ASI menggunakan tangannya. Mengapa?

"Memerah ASI dengan tangan bisa memberi kenyamanan pada payudara, membantu bayi menyusu, menjaga pasokan ASI, dan mempertahakan ASI jika si bayi belum bisa menyusu," jelas Dr. Elizabeth Yohmi, SpA, IBCLC.

Yang dimaksud Dr Yohmi dengan kenyamanan payudara yaitu kulit payudara ibu akan lebih nyaman saat bersentuhan langsung dengan kulit tangan dibandingkan dengan pompa ASI yang berbahan plastik. Selain itu, kulit payudara juga bisa terhindar dari iritasi atau lecet. Tak hanya itu, Dr Yohmi juga menambahkan khususnya bagi ibu yang menggunakan pompa ASI listrik, kita tidak bisa tahu kapan listrik tiba-tiba mati.

"Kalau kita bersandar pada pompa, tidak biasa memerah ASI dengan tangan, lalu tiba-tiba mati listrik, apa bayi kita jadi tidak bisa minum ASI?" katanya. Pemaparan tersebut diberikan Dr Yohmi dalam 'Seminar Media' BFW 2013 “Breastfeeding Support: Closed to Mothers” di kantor IDAI, Jl.Dempo, Matraman, Jakarta Pusat, Rabu (21/8/2013).

Oleh karena itu, agar terbiasa memerah ASI dengan tangan, pasca melahirkan di rumah sakit, ibu seharusnya sudah mulai berlatih. Lalu, bagaimana caranya agar saat diperah dengan tangan ASI bisa lebih mudah mengalir?

"Duduk senyaman mungkin, santai, dan pikirkan si anak. Memang cara ini sulit-sulit gampang jadi jangan hanya mencoba sekali lantas ASI hanya keluar sedikit, lalu ibu merasa down," jelas Dr Yohmi.

Ia menambahkan, memikirkan bayi Anda berarti selalu ber-positive thinking dan usahakan melakukan ini semua demi anak Anda. Pasalnya, menurut pengalaman dokter yang berpraktek di RS St Carolus ini, ibu yang ketakutan dan tegang saat memerah, ASI-nya akan keluar lebih sedikit.

Setelah duduk dengan nyaman, cobalah hangatkan payudara dengan mengompresnya menggunakan air hangat. Lalu, pijat atau usap payudara Anda dan putar puting di antara jari. Langkah ini memang membutuhkan teknik tersendiri. Selain itu, pijat juga punggung Anda. Menurut Dr Yohmi, dianjurkan yang memijat adalah suami karena akan merangsang hormon kasih sayang yang juga bisa merangsang pula produksi ASI.

"Setelah itu, raba bagian belakang aerola yang ada tekstur seperti bergerenjal. Lalu, tekan ibu jari dan jari-jari ke bagian belakang ke arah dada, lalu tekan dan dorong ASI ke arah puting. Lepaskan dan ulangi penekanan ini sampai ASI keluar,' papar Dr Yohmi.

Sebaiknya letakkan ASI dalam wadah yang bermulut besar misalnya gelas karena wadah dengan mulut kecil seperti botol akan membuat ASI lebih mudah tumpah dan itu akan membuat si ibu panik. Setelah terkumpul, ASI sebaiknya disimpan dalam wadah tertutup.

Serta, jangan lupa tulis tanggal dan waktu pemerahan kemudian gunakan ASI yang lebih dulu diperah. ASI bisa bertahan beberapa jam atau bahkan beberapa hari jika disimpan dalam lemari pendingin. Tapi, sebaiknya jangan simpan ASI di atas suhu 37 derajat karena akan merusak ASI.

ASI beku bisa dicairkan perlahan dan digunakan dalam waktu 24 jam atau dihangatkan dalam wadah berisi air hangat dan digunakan dalam waktu satu jam. "Jangan memasak atau memanaskan ASI dalam microwave karena dapat merusak kandungannya dan membakar mulut bayi," tegas Dr Yohmi.

(vit/vit)