Menurut peneliti, orang-orang yang jam kerjanya pendek justru dilaporkan lebih sering mengalami stres dibanding rekan kerjanya yang bekerja lebih lama. Studi ini sendiri terinspirasi dari kebijakan baru di Korea Selatan di mana setiap orang dilarang bekerja di hari Sabtu dan jam kerja mingguan resmi di semua perusahaan dikurangi dari 44 jam hingga tinggal 40 jam.
Kebijakan ini sengaja diberlakukan pemerintah untuk meningkatkan standar hidup pekerja, mendorong kemajuan industri pariwisata di Korea serta mengurangi efek negatif dari jam kerja yang terlalu panjang, yang pada akhirnya dapat menurunkan produktivitas dan meningkatkan kecelakaan kerja.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hal ini karena para wanita menghadapi lebih banyak pertentangan peran dalam pekerjaan maupun keluarga, terutama pada masyarakat tradisional Korea. Mereka juga mempunyai jam lembur yang panjang," ungkap peneliti Dr Robert Rudolf seperti dilansir Daily Mail, Jumat (23/8/2013).
Kendati para pekerja, khususnya wanita, merasa bersyukur karena jam kerja mingguan mereka dikurangi sebanyak empat jam, nyatanya kondisi ini tidaklah memberikan dampak yang signifikan terhadap kepuasan kerja maupun kepuasan hidup si pekerja.
"Hal ini karena berkurangnya jam kerja biasanya dibarengi dengan peningkatan intensitas pekerjaan yang diatur oleh atasan. Atau ada juga sejumlah perusahaan yang cenderung memberikan hari libur lebih sedikit dari perusahaan lainnya," terang Rudolf.
Tapi di sisi lain studi yang diklaim sebagai yang pertama mengamati dampak pengurangan jam kerja terhadap tingkat kesejahteraan individu dan keluarganya ini menampik teori lama bahwa jam kerja yang panjang atau peningkatan intensitas pekerjaan berdampak negatif terhadap kebahagiaan pekerja. Pasalnya pengurangan jam kerja dapat mengimbangi efek positif dari kebijakan itu sendiri.










































