Studi Ini Klaim Kerja Lembur Malah Menyehatkan

Studi Ini Klaim Kerja Lembur Malah Menyehatkan

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Jumat, 23 Agu 2013 16:45 WIB
Studi Ini Klaim Kerja Lembur Malah Menyehatkan
(Foto: Thinkstock)
Jakarta - Selama ini yang kita tahu kerja lembur atau durasi kerja yang berlebihan dapat membuat pekerja jadi mudah jatuh sakit dan terkena stres akut. Tapi baru-baru ini sebuah studi malah mengklaim kesehatan pekerja akan semakin membaik jika jam kerjanya ditambah. Kok bisa?

Menurut peneliti, orang-orang yang jam kerjanya pendek justru dilaporkan lebih sering mengalami stres dibanding rekan kerjanya yang bekerja lebih lama. Studi ini sendiri terinspirasi dari kebijakan baru di Korea Selatan di mana setiap orang dilarang bekerja di hari Sabtu dan jam kerja mingguan resmi di semua perusahaan dikurangi dari 44 jam hingga tinggal 40 jam.

Kebijakan ini sengaja diberlakukan pemerintah untuk meningkatkan standar hidup pekerja, mendorong kemajuan industri pariwisata di Korea serta mengurangi efek negatif dari jam kerja yang terlalu panjang, yang pada akhirnya dapat menurunkan produktivitas dan meningkatkan kecelakaan kerja.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kemudian setelah mengamati tingkat kebahagiaan sejumlah individu berikut keluarganya dengan jam kerja yang berbeda-beda, peneliti pun menemukan bahwa para ibu dan istri yang bekerja umumnya lebih puas dengan perubahan kebijakan ini dibandingkan para suami dan ayah.

"Hal ini karena para wanita menghadapi lebih banyak pertentangan peran dalam pekerjaan maupun keluarga, terutama pada masyarakat tradisional Korea. Mereka juga mempunyai jam lembur yang panjang," ungkap peneliti Dr Robert Rudolf seperti dilansir Daily Mail, Jumat (23/8/2013).

Kendati para pekerja, khususnya wanita, merasa bersyukur karena jam kerja mingguan mereka dikurangi sebanyak empat jam, nyatanya kondisi ini tidaklah memberikan dampak yang signifikan terhadap kepuasan kerja maupun kepuasan hidup si pekerja.

"Hal ini karena berkurangnya jam kerja biasanya dibarengi dengan peningkatan intensitas pekerjaan yang diatur oleh atasan. Atau ada juga sejumlah perusahaan yang cenderung memberikan hari libur lebih sedikit dari perusahaan lainnya," terang Rudolf.

Tapi di sisi lain studi yang diklaim sebagai yang pertama mengamati dampak pengurangan jam kerja terhadap tingkat kesejahteraan individu dan keluarganya ini menampik teori lama bahwa jam kerja yang panjang atau peningkatan intensitas pekerjaan berdampak negatif terhadap kebahagiaan pekerja. Pasalnya pengurangan jam kerja dapat mengimbangi efek positif dari kebijakan itu sendiri.



(vit/vit)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads