5 Perubahan Aneh Pasca Kena Stroke, Jadi Gay Hingga Tak Mampu Merasa Sedih

5 Perubahan Aneh Pasca Kena Stroke, Jadi Gay Hingga Tak Mampu Merasa Sedih

- detikHealth
Senin, 26 Agu 2013 16:01 WIB
5 Perubahan Aneh Pasca Kena Stroke, Jadi Gay Hingga Tak Mampu Merasa Sedih
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
Jakarta -

1. Malcolm Myatt, Tak Bisa Bersedih

(Foto: mirror)
Malcolm Myatt (68) mengalami stroke yang mempengaruhi lobus frontal otak, yaitu bagian dari otak yang mengatur emosi. Akibatnya, ia kehilangan kemampuan untuk merasa sedih. "Saya tidak pernah tertekan. Menjadi sedih tidak akan membantu apa-apa. Ini benar-benar keuntungan (setelah mengalami stroke)," tutur Malcolm Myatt.

Menurut The Stroke Association, banyak perubahan psikologis yang terjadi setelah stroke tergantung pada bagian mana dari otak yang terpengaruh, serta tingkat kerusakannya.

2. Chris Birch, Berubah Jadi Gay

(Foto: Telegraph)
Mantan pemain rugby, Chris Birch, menderita stroke saat tengah berlatih dan ketika sadar ia malah menjadi seorang gay. Birch adalah seorang straight (tertarik dengan lawan jenis), telah bertunangan dan akan menikah, sebelum akhirnya ia mengalami sebuah kecelakaan di gym.

Pria 26 tahun ini mencoba mengesankan teman-temannya dengan backflip, tapi lehernya malah patah dan menderita stroke. Ketika terbangun, ia mengalami perubahan kepribadian yang drastis, termasuk lebih tertarik dengan pria. Birch memutuskan pertunangan dan menemukan pacar seorang pria. Dia juga meninggalkan pekerjaannya di bank untuk berlatih sebagai penata rambut.

3. Alun Morgan, Bicara Bahasa Asing

(Foto: Huffingtonpost)
Alun Morgan (81) dibesarkan di Inggris dan hanya bisa bicara bahasa Inggris. Namun, setelah stroke ia menemukan bahwa ia hanya bisa berkomunikasi dalam bahasa Welsh, meskipun ia belum pernah mempelajarinya. Morgan mengaku terakhir mengunjungi negara itu 70 tahun lalu.

Dokter percaya bahwa pengalaman Morgan disebabkan oleh gangguan otak yang disebut afasia, yang menyebabkan kerusakan pada bagian otak yang mengatur penggunaan bahasa Inggris.

4. Linda Walker, Berubah Aksen Bicara

(Foto: dailymail)
Linda Walker terbangun dari stroke dan menemukan bahwa otaknya telah mengubah aksen Newcastle menjadi sesuatu yang lain. Wanita 60 tahun ini mungkin mengalami Foreign Accent Syndrome, suatu kondisi di mana pasien berbicara berbeda setelah cedera otak. Linda salah satu dari hanya 50 kasus yang tercatat dalam 65 tahun terakhir.

Mantan administrator universitas ini membenci apa yang telah terjadi padanya dan sekarang merasa seperti orang yang berbeda. "Adik iparku mengatakan aku terdengar seperti orang Italia, kakakku mengatakan aku terdengar seperti Slovakia dan orang lain bilang aku terdengar seperti orang Prancis, Kanada, dan lainnya. Yang terbaru aku terdengar seperti orang Jamaika, aku hanya tidak tahu bagaimana menjelaskannya," ujarnya.

5. Ken Walters, Jadi Digital Artist

(Foto: theguardian)
Ken Walters bukanlah orang yang berjiwa seni sebelumnya. Mantan insinyur ini lumpuh setelah mengalami kecelakaan mengerikan yang membuatnya harus duduk di kursi roda, menganggur dan memicu depresi selama 19 tahun.

Namun serangan stroke di tahun 2005 justru seakan memberinya 'hadiah' tak terduga. Setelah pendarahan otak, ia mengaku memiliki kemampuan artistik dan merasa lebih kreatif. Walters mulai mengembangkan seni digital, yang membuatnya mampu memulai perusahaan perangkat lunak sendiri dan pekerjaan yang menguntungkan dengan EA games pada usia 51 tahun.
Halaman 2 dari 6
Malcolm Myatt (68) mengalami stroke yang mempengaruhi lobus frontal otak, yaitu bagian dari otak yang mengatur emosi. Akibatnya, ia kehilangan kemampuan untuk merasa sedih. "Saya tidak pernah tertekan. Menjadi sedih tidak akan membantu apa-apa. Ini benar-benar keuntungan (setelah mengalami stroke)," tutur Malcolm Myatt.

Menurut The Stroke Association, banyak perubahan psikologis yang terjadi setelah stroke tergantung pada bagian mana dari otak yang terpengaruh, serta tingkat kerusakannya.

Mantan pemain rugby, Chris Birch, menderita stroke saat tengah berlatih dan ketika sadar ia malah menjadi seorang gay. Birch adalah seorang straight (tertarik dengan lawan jenis), telah bertunangan dan akan menikah, sebelum akhirnya ia mengalami sebuah kecelakaan di gym.

Pria 26 tahun ini mencoba mengesankan teman-temannya dengan backflip, tapi lehernya malah patah dan menderita stroke. Ketika terbangun, ia mengalami perubahan kepribadian yang drastis, termasuk lebih tertarik dengan pria. Birch memutuskan pertunangan dan menemukan pacar seorang pria. Dia juga meninggalkan pekerjaannya di bank untuk berlatih sebagai penata rambut.

Alun Morgan (81) dibesarkan di Inggris dan hanya bisa bicara bahasa Inggris. Namun, setelah stroke ia menemukan bahwa ia hanya bisa berkomunikasi dalam bahasa Welsh, meskipun ia belum pernah mempelajarinya. Morgan mengaku terakhir mengunjungi negara itu 70 tahun lalu.

Dokter percaya bahwa pengalaman Morgan disebabkan oleh gangguan otak yang disebut afasia, yang menyebabkan kerusakan pada bagian otak yang mengatur penggunaan bahasa Inggris.

Linda Walker terbangun dari stroke dan menemukan bahwa otaknya telah mengubah aksen Newcastle menjadi sesuatu yang lain. Wanita 60 tahun ini mungkin mengalami Foreign Accent Syndrome, suatu kondisi di mana pasien berbicara berbeda setelah cedera otak. Linda salah satu dari hanya 50 kasus yang tercatat dalam 65 tahun terakhir.

Mantan administrator universitas ini membenci apa yang telah terjadi padanya dan sekarang merasa seperti orang yang berbeda. "Adik iparku mengatakan aku terdengar seperti orang Italia, kakakku mengatakan aku terdengar seperti Slovakia dan orang lain bilang aku terdengar seperti orang Prancis, Kanada, dan lainnya. Yang terbaru aku terdengar seperti orang Jamaika, aku hanya tidak tahu bagaimana menjelaskannya," ujarnya.

Ken Walters bukanlah orang yang berjiwa seni sebelumnya. Mantan insinyur ini lumpuh setelah mengalami kecelakaan mengerikan yang membuatnya harus duduk di kursi roda, menganggur dan memicu depresi selama 19 tahun.

Namun serangan stroke di tahun 2005 justru seakan memberinya 'hadiah' tak terduga. Setelah pendarahan otak, ia mengaku memiliki kemampuan artistik dan merasa lebih kreatif. Walters mulai mengembangkan seni digital, yang membuatnya mampu memulai perusahaan perangkat lunak sendiri dan pekerjaan yang menguntungkan dengan EA games pada usia 51 tahun.

(mer/up)

Berita Terkait