"Kondisi ini dapat dikaitkan dengan dampak jangka panjang dari program Keluarga Berencana (KB) yang mulai dilaksanakan secara nasional sejak tahun 1970-an," papar Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Prof. dr Fasli Jalal, SpGK, PhD, dalam Seminar Nasional Pembangunan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) 2013, di Hotel Bela International, Ternate, Maluku Utara, seperti ditulis Kamis (29/8/2013).
Dalam seminar yang bertemakan 'Melalui Seminar Kependudukan dan Keluarga Berencana Kita Mantapkan SDM yang Berwawasan Kependudukan', Fasli mengungkapkan tingginya tingkat kelahiran pada dekade 1960-1970an menyebabkan meningkatnya proporsi penduduk kelompok usia muda atau 15 tahun ke atas pada dekade 1990an.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah itu, secara perlahan bonus tersebut akan hilang karena semakin membesarnya proporsi penduduk lanjut usia (65 tahun ke atas).
Secara demografis, besarnya proporsi penduduk usia produktif tersebut seharusnya menjadi potensi bagi pembangunan negara. Untuk mewujudkannya diperlukan usaha tak hanya dari pemerintah, tetapi juga dari berbagai pihak.
"Ada 4 prasyarat yang harus dipenuhi, yaitu penduduk harus berkualitas; penduduk usia produktif harus terserap dalam pasar kerja; ada peningkatan tabungan di tingkat rumahtangga; serta peningkatan jumlah wanita yang masuk dalam pasar kerja," ujar Fasli.
(up/up)










































