Penelitian dari Sutter Health, lembaga kesehatan nirlaba yang bermarkas di California Utara, AS ini bertujuan ingin mencari kaitan antara migrain dengan tingkat pendidikan dan karir seseorang. Hasilnya, para peneliti menemukan bahwa migrain lebih sering dialami orang-orang berpenghasilan rendah.
"Jika stres yang dialami mereka yang berpenghasilan rendah adalah satu-satunya penentu, maka dugaan kami, orang yang berpenghasilan rendah lebih sulit menghentikan migrain. Mungkin kemunculan penyakit ini memiliki penyebab yang berbeda dari cara mengatasinya," kata peneliti, Walter F. Stewart, Ph.D, seperti dilansir Counselheal, Kamis (29/8/2013).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ternyata, mereka yang berpendapatan rendah lebih banyak mengalami migrain. Pada peserta wanita berusia 25 - 34 tahun, mereka yang berpenghasilan tinggi ada sebanyak 20 persen yang terserang migrain. Sedangkan yang berpenghasilan migrain lebih banyak, yaitu 37 persen.
Sedangkan pada wanita yang berasal dari rumah tangga berpendapatan menengah, yang terserang migrain sebanyak 29 persen. Pada pria dengan rentang usia yang sama, yang terkena migrain dari kelompok berpendapatan tinggi ada 5 persen, dari kelompok pendapatan menengah 8 persen, dan pendapatan rendah 13 persen.
Para peneliti menggarisbawahi bahwa kecenderungan ini tetap ada meskipun sudah menganalisis faktor ras, usia, jenis kelamin dan variabel lainnya. Meskipun demikian, penelitian yang dimuat jurnal Neurology ini tidak menyimpulkan bahwa memiliki pendapatan yang lebih rendah dapat memicu migrain.
(pah/up)










































