Alat-alat Medis Paling Mengerikan dalam Sejarah Kedokteran (2)

Alat-alat Medis Paling Mengerikan dalam Sejarah Kedokteran (2)

- detikHealth
Selasa, 10 Sep 2013 16:26 WIB
Alat-alat Medis Paling Mengerikan dalam Sejarah Kedokteran (2)
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
Jakarta -

1. Osteotome

(Foto: Listverse)
Meskipun secara teknis osteotome adalah sejenis gergaji, alat medis yang ditemukan oleh Bernard Heine sekitar tahun 1830 ini tidak digunakan untuk menebang pohon. Osteotome awalnya digunakan dalam proses trepanning, yakni tindakan mengebor lubang kecil ke dalam tengkorak.

Bagian yang tajam didorong ke dalam tengkorak pasien untuk menahan instrumen di tempat, sehingga dokter dapat memutar pegangan untuk mengubah mata gergaji bergigi dan menembus otak pasien.

2. Stricture Divulsor

(Foto: Listverse)
Ketika uretra pasien pria terlalu sempit sehingga tidak bisa dilewati aliran urine, dokter menggunakan sebuah stricture divulsor. Pada dasarnya, alat itu dimasukkan ke dalam uretra melalui ujung penis dan menavigasi ke tempat yang dibutuhkan. Kemudian sekrup berubah untuk memisahkan pisau dan melebarkan uretra sejauh mungkin.

Mayoritas dokter percaya merobek penyempitan membuat kondisinya lebih baik, dan melihat aliran darah sesudahnya benar-benar dianggap sebagai pertanda baik.

3. Louse Cages

(Foto: Listverse)
Instrumen Louse Cages sebenarnya bukan alat medis tetapi perangkat ini digunakan untuk membantu menciptakan vaksin yang menyelamatkan banyak nyawa. Dalam sejarah peperangan, jauh lebih banyak tentara yang meninggal akibat penyakit daripada di medan perang. Epidemi tifus melanda tentara, belum lagi daerah miskin di mana orang tinggal dalam jarak dekat tanpa akses terhadap sanitasi yang layak.

Penyakit ini dibawa oleh kutu manusia dan tidak ada obatnya sampai tahun 1920, ketika Profesor Rudolph Weigl menemukan sebuah metode yang agak tidak menyenangkan untuk memproduksi vaksin yang efektif. Kutu dibiakkan, menetas, dan diberi makan darah manusia yang dijadikan 'umpan', di mana paha atau betisnya diikat dengan benda yang disebut 'kandang'. Setelah tumbuh, kutu yang terinfeksi dengan penyakit dibedah dan dibuatlah vaksin.

4. Tonsil Guillotine

(Foto: Listverse)
Untuk mengobati tonsilitis dan komplikasi yang terkait, peritonsillar abscess atau umumnya dikenal sebagai quinsy, tonsil guillotine pun dikembangkan.

Instrumen ini digunakan dokter untuk mencapai tenggorokan pasien, menembus tonsil dengan garpu dan memutuskan jaringan dengan pisau guillotine. Pada akhir abad ke-19, anestesi ringan dalam bentuk larutan kokain disuntikkan sebelum menggunakan guillotine tersebut.

5. Dental Phantom

(Foto: Listverse)
Dental Phantom atau 'hantu gigi' merupakan model yang digunakan untuk belajar dan berlatih para calon dokter gigi. Alat ini dirancang oleh  HR Giger untuk film Alien, dan kemungkinan sejak tahun 1930-an. Dental Phantom sering menggunakan gigi manusia yang diambil dari mayat, dan mahasiswa gigi modern masih menggunakan model yang sama.
Halaman 2 dari 6
Meskipun secara teknis osteotome adalah sejenis gergaji, alat medis yang ditemukan oleh Bernard Heine sekitar tahun 1830 ini tidak digunakan untuk menebang pohon. Osteotome awalnya digunakan dalam proses trepanning, yakni tindakan mengebor lubang kecil ke dalam tengkorak.

Bagian yang tajam didorong ke dalam tengkorak pasien untuk menahan instrumen di tempat, sehingga dokter dapat memutar pegangan untuk mengubah mata gergaji bergigi dan menembus otak pasien.

Ketika uretra pasien pria terlalu sempit sehingga tidak bisa dilewati aliran urine, dokter menggunakan sebuah stricture divulsor. Pada dasarnya, alat itu dimasukkan ke dalam uretra melalui ujung penis dan menavigasi ke tempat yang dibutuhkan. Kemudian sekrup berubah untuk memisahkan pisau dan melebarkan uretra sejauh mungkin.

Mayoritas dokter percaya merobek penyempitan membuat kondisinya lebih baik, dan melihat aliran darah sesudahnya benar-benar dianggap sebagai pertanda baik.

Instrumen Louse Cages sebenarnya bukan alat medis tetapi perangkat ini digunakan untuk membantu menciptakan vaksin yang menyelamatkan banyak nyawa. Dalam sejarah peperangan, jauh lebih banyak tentara yang meninggal akibat penyakit daripada di medan perang. Epidemi tifus melanda tentara, belum lagi daerah miskin di mana orang tinggal dalam jarak dekat tanpa akses terhadap sanitasi yang layak.

Penyakit ini dibawa oleh kutu manusia dan tidak ada obatnya sampai tahun 1920, ketika Profesor Rudolph Weigl menemukan sebuah metode yang agak tidak menyenangkan untuk memproduksi vaksin yang efektif. Kutu dibiakkan, menetas, dan diberi makan darah manusia yang dijadikan 'umpan', di mana paha atau betisnya diikat dengan benda yang disebut 'kandang'. Setelah tumbuh, kutu yang terinfeksi dengan penyakit dibedah dan dibuatlah vaksin.

Untuk mengobati tonsilitis dan komplikasi yang terkait, peritonsillar abscess atau umumnya dikenal sebagai quinsy, tonsil guillotine pun dikembangkan.

Instrumen ini digunakan dokter untuk mencapai tenggorokan pasien, menembus tonsil dengan garpu dan memutuskan jaringan dengan pisau guillotine. Pada akhir abad ke-19, anestesi ringan dalam bentuk larutan kokain disuntikkan sebelum menggunakan guillotine tersebut.

Dental Phantom atau 'hantu gigi' merupakan model yang digunakan untuk belajar dan berlatih para calon dokter gigi. Alat ini dirancang oleh  HR Giger untuk film Alien, dan kemungkinan sejak tahun 1930-an. Dental Phantom sering menggunakan gigi manusia yang diambil dari mayat, dan mahasiswa gigi modern masih menggunakan model yang sama.

(mer/vta)

Berita Terkait