Dengan menggunakan data dari National Comorbidity Survey Replication AS, peneliti akhirnya menemukan perbedaan gejala depresi pada pria dan wanita. Jika pria yang depresi, maka mereka lebih sering memperlihatkan gejala seperti marah-marah, penyalahgunaan obat-obatan dan perilaku berisiko, sedangkan gejala depresi pada wanita di antaranya sedih, tertekan atau gangguan mood, menyendiri atau mengisolasi diri dari kehidupan sosial serta mengalami gangguan tidur.
Hanya saja gejala depresi pada wanita dianggap sebagai gejala klasik atau lebih lazim ditemukan pada penderita depresi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi jangan harap pria yang paling depresi sekalipun menangis atau galau dan guling-guling di atas kasur. Alih-alih begitu mereka akan lebih memilih untuk melampiaskannya dengan memakai obat-obatan terlarang dan mengonsumsi alkohol," lanjutnya.
Dari studi ini juga dapat disimpulkan jika pria sama rentannya terkena depresi seperti halnya wanita, tapi stigma tentang depresi pada dua gender yang berbeda ini tampaknya tak bisa hilang hanya dalam semalam. "Kita masih pecaya pria tak butuh bantuan seperti wanita ketika mengalami depresi, meski mereka sendiri mengakuinya," tandas Martin.
Lalu apa yang bisa dilakukan untuk mengenali gejala depresi pada pria? Martin menyarankan agar Anda memperhatikan perubahan mood yang signifikan pada dirinya (seperti tiba-tiba suka menyendiri, mudah marah atau terlalu pesimis, apalagi jika porsinya berlebihan)
Amati juga perubahan perilakunya, di antaranya jika mereka mendadak suka berjudi, menghabiskan banyak waktu untuk mabuk-mabukan, atau melakukan aktivitas seorang diri padahal biasanya ia melakukannya bersama orang lain).
Gejala lain yang tak boleh diabaikan adalah perilaku kompulsif seperti tiba-tiba sering lembur/larut dalam pekerjaan atau berolahraga secara nonstop. "Mereka mengira jika pikiran dan tubuhnya sudah disibukkan oleh sesuatu, maka mereka tak perlu berurusan dengan apa yang terjadi di dalamnya," terang Martin.
Begitu juga ketika para istri siap berbicara dengan pasangannya tentang potensi depresi yang dimiliki suami mereka, Martin menyarankan agar mereka siap dengan sikap defensif dari sang suami. "Kalau bisa jangan diungkit ketika sedang marah dan cobalah untuk mendiskusikannya secara tidak langsung terlebih dulu, daripada langsung menuduhnya depresi," ujar Martin.
Misalnya dengan mencoba menanyakan gejala-gejala spesifik yang Anda temukan, seperti ketika mereka tampak lebih agresif dari biasanya. "Tapi karena banyak orang berpikir pria jarang terkena depresi, jadi Anda harus pandai-pandai mengolah bahasa dan memilih pendekatan yang tepat untuk mulai mendiskusikannya," imbau Martin.
(/)










































