Kamis, 26 Sep 2013 09:27 WIB

Tak Sedikit Orang Indonesia Kena Stroke, Tapi Riset Neurosains Minim

- detikHealth
Foto: Ilustrasi/Thinkstock Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta - Tidak sedikit masyarakat Indonesia yang terserang penyakit neurodegeneratif, seperti stroke. Namun sayangnya di Indonesia dengan jumlah penderita stroke yang tidak sedikit ini justru riset dan pendidikan mengenai neurosains dinilai masih tertinggal jauh dari negara lainnya.

"Perkembangan dari neurosains di dunia sangatlah pesat. Akan tetapi perkembangan riset dan pendidikan neurosains di Indonesia masih jauh tertinggal dibanding dengan negara lain," tutur Irawan Satriotomo, MD, Ph.D., Direktur Surya University, pada keterangan tertulis kepada detikHealth, Kamis (26/9/2013).

Penyakit neurodegeneratif adalah penyakit progresif dari sistem saraf yang berhubungan dengan kerusakan dari sel-sel saraf yang mempunyai banyak fungsi mulai dari pengendalian gerakan, akuisisi, pengolahan informasi sensorik, pengambilan memori dan dalam membuat keputusan. Meski tampaknya menyerang sel saraf, namun ternyata penyakit ini merupakan salah satu jenis penyakit yang mematikan, dan bahkan sampai saat ini tidak ada obat atau penanganan untuk mengatasi penyakit ini.

Kematian pada saraf ini merupakan masalah utama dalam berbagai penyakit saraf, seperti stroke, Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS), Alzheimer, Parkinson, penyakit Huntington, multiple sclerosis, Cord Injury Spinal (SCI) atau kerusakan sumsum tulang.

Di Amerika dan Uni Eropa kini telah melihat penyakit ini sebagai suatu problema yang menantang di masa depan, terutama dalam bidang kesehatan. Amerika dan Uni Eropa bahkan telah mengambil langkah serius dengan menganggarkan sekitar separuh dari anggaran kesehatan mereka untuk difokuskan sebagai prevensi dan penanganan serta penelitian terkait penyakit neurodegenerasi. Sayangnya di Indonesia tidak dilakukan hal ini.

"Atas dasar itulah, kami merasakan perlu untuk mendirikan pusat penelitian otak (brain research center) di Indonesia, yaitu IBRC (Indonesia Brain Research Center. IBRC didirikan untuk menyelidiki dan menemukan terapi baru untuk penyakit neurodegeneratif, " ujar Irawan.

IBRC ini adalah sebuah lembaga yang terintegrasi dengan pendekatan multidisiplin, serta berdedikasi untuk menyelidiki dan menyembuhkan penyakit neurodegeneratif. Tujuannya untuk mengaplikasikan penelitian neurosains dari meja penelitian ke pasian. Dengan beranggotakan dokter-ilmuwan, dokter dan para peneliti yang memiliki keahlian dalam ilmu atau penyakit saraf.



(vit/mer)
News Feed