Mitos Seperti Ini Hambat Penanganan Stroke Sejak Dini

Mitos Seperti Ini Hambat Penanganan Stroke Sejak Dini

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Kamis, 03 Okt 2013 10:32 WIB
Mitos Seperti Ini Hambat Penanganan Stroke Sejak Dini
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta - Untuk menangani serta mencegah serangan stroke, salah satu yang turut ambil peran pastinya masyarkat. Namun sayangnya, pengetahuan masyarakat terkait stroke bisa dikatakan masih rendah.

Hal ini diungkapkan dokter spesialis saraf Eka Hospital BSD, dr Herianto SpS. Menurut dr Herianto, masih berkembangnya mitos atau kepercayaan mengenai stroke adalah salah satu bukti masih rendahnya pengetahuan masyarakat. Sehingga, kepedulian terhadap stroke pun masih minim.

"Survei di Amerika, menunjukkan bahwa masyarakat itu masih percaya stroke hanya bisa dialami oleh orang yang tua saja. Makanya waktu masih muda, bolehlah kita makan yang enak-enak, ngerokok, senang-senang dululah," kata dr Herianto.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu, masih ada lagi yang beranggapan bahwa stroke itu nasib sehingga sudah tak bisa ditangani lagi. "Jadi kalau nggak sembuh, meninggal, atau cacat, itu saja yang dipikirkan akan terjadi pada orang stroke," lanjut dr Herianto.

Khususnya di Indonesia, dr Herianto menuturkan terlambatnya penanganan terhadap pasien stroke karena masih kuatnya kepercayaan lokal di masyarakat. Misalnya, saat orang merasa anggota tubuhnya lemas, maka dikira itu masuk angin atau angin duduk. Tak jarang, mereka pun mengatasinya hanya dengan dikerik atau dibekam.

"Banyak juga pasien yang ke sini itu banyak bekas tusukan yang dibilang hilangkan darah kotor itu. Katanya itu sebagai pertolongan pertama, tapi nggak tahunya kondisi makin parah, baru dibawa ke rumah sakit," papar dr Herianto.

Keterangan itu ia berikan dalam acara Grand Launching Eka Hospital Stroke Center di Eka Hospital, BSD City, Tangerang, dan ditulis pada Kamis (3/10/2013).

Pernyataan dr Herianto dibenarkan kepala neuro centre Eka Hospital, dr Setyo Widi SpBS. Ia mengatakan insidensi stroke di Indonesia yakni 300.000 kasus baru setiap tahun dan kebiasaan merokok di masyarakat bisa menjadi cerminan masih rendahnya pengetahuan masyarakat terhadap stroke.

"Merokok cerminan kondisi sosial kalau rokok sebagai faktor risiko stroke masih rendah di Indonesia. Yang juga jadi masalah data pasien stroke di Indonesia belum ada yang pasti," kata dr Setyo.

"Sekarang kita nggak bisa anggap stroke itu nasib. Alat sudah maju, sudah canggih, cepat tangani mereka karena kurang dari tiga jam mereka baru ditangani, maka fungsi tubuh mereka akan menurun, bahkan terganggu," imbuhnya.

(/up)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads