Hal ini diakui oleh Dr drh Joko Pamungkas, MSc, Kepala Pusat Studi Satwa Primata LPPM IPB, masih menjadi masalah yang menimbulkan dilema. Masih banyak pertimbangan yang perlu dipikirkan bersama mengenai tindakan apa yang paling tepat diberikan pada hewan-hewan tersebut.
"Kalau bicara sebagai dokter hewan, kita melihat efek yang ditimbulkan dan TBC sangat mudah menyebar. Oleh sebab itu sebenarnya rekomendasi medis untuk satwa demikian adalah bukan diobati. Sebab belum tentu efektif, tapi berisiko untuk menularkan," ujar Dr Joko, saat dihubungi detikHealth dan ditulis pada Senin (28/10/2013).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena ya itu tadi, efektivitas pengobatan belum tentu sembuh. Kecuali pada orang utan, karena mereka kan termasuk hewan yang dilindungi secara konservasi," tutur Dr Joko.
Tindakan euthanasia atau suntik mati diyakini bisa menimbulkan protes atau ketidaksetujuan dari berbagai pihak dan masyarakat, terutama pihak komunitas yang bergerak di bidang perlindungan hewan. Hal inilah yang kemudian menjadi pertimbangan kembali oleh dokter hewan.
Sementara itu, Dr Emil Agustiono, MKes, Sekretaris Komnas Pengendalian Zoonosis, mengungkapkan hal sebaliknya. Ia mengungkapkan ketidaksetujuannya terhadap kebijakan euthanasia sebagai jawaban untuk mengatasi masalah monyet yang sakit.
"Harus diobati sampai sembuh dong, dibawa ke RS hewan. Sebaiknya tidak langsung suntik mati, harus tetap diobati dulu," tegas Dr Emil.
Benfica, atau yang akrab disapa Iben, dari Jakarta Animal Aid Network (JAAN), membenarkan kepada detikHealth bahwa ada beberapa pertimbangan yang harus dipikirkan untuk menangani kasus monyet yang terserang penyakit seperti TBC.
"Pertama kita lihat dulu penyakitnya, apakah kronis atau tidak. Kalau masih ada peluang disembuhkan, kita taruh di kandang isolasi. Tapi kalau dari rekomendasi dokter memang benar-benar kronis dan membahayakan, membahayakan manusia maupun sesama jenisnya, dengan kesepatakan bersama baru kita euthanasia. Dan kita nggak cuma pakai pendapat satu dokter," tegas Iben.
(ajg/)










































