Senin, 04 Nov 2013 12:34 WIB

Melacak Asal Usul Sifilis, Penyakit Raja Singa yang Misterius

- detikHealth
Ilustrasi (dok: Thinkstock) Ilustrasi (dok: Thinkstock)
Jakarta - Selama berabad-abad, penyakit raja singa alias sifilis telah menginfeksi jutaan manusia dan menjadi masalah global. Yang hingga kini belum terjawab, dari manakah asal muasal penyakit kelamin ini? Para ilmuwan masih penasaran.

Salah satu teori menyebutkan awal mula persebaran penyakit ini berhubungan dengan pelayaran Christhoper Colombus untuk menemukan benua baru. Menurut teori ini, awalnya para awak Colombus membawa sifilis dari benua Amerika dalam pelayaran pulang ke Eropa tahun 1492.

Tidak berapa lama kemudian, epidemi sifilis pertama di dunia dilaporkan pada tahun 1495 pada masa invasi Prancis ke sebuah kota di Italia, Naples. Meski begitu, beberapa kalangan meragukan teori ini. Kalangan ini mengklaim sifilis sudah ada di Eropa sebelum Colombus melakukan pelayaran ke Amerika, hanya saja sampai tahun 1495 penyakit ini masih belum bisa dibedakan dengan lepra alias kusta.

Sifilis, penyakit menular seksual yang merusak jantung, otak, mata dan tulang, dan bahkan memicu kematian bila tidak diobati, pertama kali muncul dalam catatan sejarah di tahun 1496 yang ditulis oleh Joseph Grunpeck. Istilah sifilis sendiri pertama kali dipakai oleh Giolamo Fracastoro, seorang penyakit Latin di tahun 1530.

Sebelum menggunakan nama tersebut, sifilis dikenal dengan banyak nama. Di beberapa negara, penyakit ini diberi nama sesuai dengan negara yang menjadi musuhnya pada masa tersebut. Misalnya orang Italaia menyebutnya sebagai French Disease, orang Jepang menyebutnya Portuguese Disease, orang Turki menyebutnya French Disease atau Christian Disease, dan orang Persia menyebutnya Turk Evil.

"Penyebutan ini mencermintan fakta bahwa orang-orang ingin cuci tangan dari tanggungjawab atas persebaran penyakit yang begitu cepat ini," tulis Ismael Maatouk and Roy Moutran dalam laporannya di Journal of Sexual Medicine, seperti dikutip dari Live Science, Senin (4/11/2013).

Meski asal-usul sifilis banyak berkutat antara Eropa dan Amerika, kemungkinan lain tetap ada. Bakteri Treponema pallidum penyebab sifilis, diketahui telah ada sejak zaman dahulu kala. Infeksi pada manusia sudah sering terjadi, namun karena gejalanya bervariasi maka dokter pada masa itu belum menyadarinya sebagai penyakit hingga tahun 1905.

Para ahli purbakala pun punya pandangan sendiri dalam melacak asal usul sifilis. Mengingat penyakit ini menyisakan penanda tertentu pada tulang, maka kemungkinan untuk melacaknya dari fosil-fosil purba sangat terbuka.

Bukti-bukti yang ada dari sejumlah situs purbakala di Amerika sebelum masa kedatangan Colombus menunjukkan tingginya tingkat infeksi sifilis di kalangan kaum muda. Hal ini menunjukkan bahwa pada masa tersebut telah ada bentuk lain dari penyakit sifilis, seperti frambosia alias patek.

Ketika terbawa oleh awak Colombus saat kembali ke Eropa, kemungkinan bakteri ini mengalami perubahan akibat iklim yang berbeda maupun karena faktor lainnya. "Mungkin paparan terhadap lingkungan inang yang baru inilah yang melahirkan subspesies T.palladium penyebab sifilis," tulis para ilmuwan.

Saat ini, sifilis mudah sekali diobati dengan antibiotik yang sesuai. Namun, penyakit ini juga masih menjadi ancaman global dengan sekitar 12 juta orang yang terinfeksi setiap tahunnya, sebagian besar karena perilaku seksual yang tidak aman.




(up/vta)
News Feed