"Risiko diabetes muncul jika dalam keluarga salah satu orang tua ada yang kena, atau bisa juga kakek atau neneknya," ujar Ketua Persatuan Diabetes Indonesia, Prof Sidartawan Soegondo, MD, PhD, FACE, dalam peringatan Hari Diabetes Dunia yang digelar oleh PT Kalbe Farma Tbk di Lapangan Banteng, Jakarta, dan ditulis pada Senin (11/11/2013).
Selain itu ada hal lain yang membuat seseorang berisiko diabetes yakni jika seseorang memiliki berat badan berlebihan dan darah tinggi. "Kalau ada faktor risiko, segera cek gula darah," pesan Prof Sidartawan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemeriksaan konsentrasi HbA1c untuk menggambarkan kondisi gula darah rata-rata dalam periode 1-3 bulan perlu dilakukan. HbA1c adalah zat yang terbentuk dari reaksi kimia antara glukosa dan hemoglobin. HbA1c yang terbentuk dalam tubuh akan disimpan dalam sel darah merah dan akan terurai secara bertahap bersama dengan berakhirnya masa hidup sel darah merah, di mana rata-rata umur sel darah merah adalah 120 hari. Tes ini dianjurkan dilakukan setiap 3 bulan sekali bagi mereka yang memiliki diabetes.
"Diabetes ini perlu diwaspadai karena dulu kebanyakan dialami mereka yang berumur 40 tahun, tapi sekarang remaja pun ada yang sudah kena. Soalnya dulu tambah umur tambah berat badan karena makan berlebihan. Tapi saat ini lingkungan juga bisa jadi pemicu diabetes pada usia yang lebih muda," terang Prof Sidartawan.
"Solusinya periksa gula darah dan berobat," imbuhnya.
(/up)











































