Jumat, 29 Nov 2013 11:52 WIB

Orang yang Bekerja Sebagai Penulis Rawan Depresi?

- detikHealth
Foto: Ilustrasi/Thinkstock Foto: Ilustrasi/Thinkstock
New York - William Styron, Sylvia Plath (penyair), dan JK Rowling, penulis seri Harry Potter, merupakan sederet penulis terkenal yang mengalami depresi. Kondisi ini banyakyang kemudian didokumentasikan dalam tulisan mereka. Benarkah orang yang bekerja sebagai penulis lebih rentan depresi?

Meskipun tidak ada data statistik yang jelas tentang berapa banyak penulis mengalami depresi, peneliti Kay Redfield Jamison, PhD, seorang profesor psikiatri di Johns Hopkins School of Medicine di Baltimore dan penulis beberapa buku, termasuk Touched With Fire: Manic-Depressive Illness and the Artistic Temperament, melaporkan bahwa penulis mengalami tingkat depresi lebih tinggi dari pekerjaan yang lainnya. Demikian dikutip dari everydayhealth dan ditulis pada Jumat (29/11/2013).

"Ada beberapa unsur kebenaran, tetapi Anda tidak perlu takut untuk menulis. Karena Anda tidak perlu menjadi gila untuk menjadi seseorang yang kreatif," ujar Alan Manevitz, MD, seorang psikiater klinis di Lenox Hill Hospital New York City.

Memahami mengapa penulis berpotensi mengalami depresi dan mengambil langkah-langkah untuk menghadapi risiko tersebut adalah cara terbaik untuk membantu mencegah depresi. Tetapi mengapa beberapa penulis mudah tertekan?

Meskipun terdapat daftar panjang penulis terkenal yang menderita depresi , hubungan antara penulis dan depresi tidak tertulis jelas. Namun ada alasan mengapa penulis mungkin rentan terhadap depres. Demikian pendapat Dr Manevitz.

Penulis dapat menulis tentang penderitaan bahkan jika mereka tidak tahu penderitaan itu apa. Tetapi beberapa penulis mungkin merasa bahwa hasil tulisan mereka tidak akan bagus jika mereka tidak mengalami cobaan dan kesengsaraan yang sama seperti karakter yang mereka tulis.

Lalu dalam proses menulis, penulis melakuakannya sendirian. Selain itu, kurangnya interaksi sosial dapat menyebabkan depresi.

"Jika Anda mengisolasi diri sendiri dan tidak berinteraksi dengan dunia luar seperi olahraga, maka lebih rentan depresi," katanya.

Kehidupan menulis juga bisa menjadi roller coaster emosional jika Anda terus-menerus dihadapkan dengan penolakan dari editor, agen, penerbit, atau bahkan rekan-rekan. "Sebagian besar dari keberhasilan seorang penulis tergantung pada bagaimana orang lain berpikir tentang dia," ujar Dr Manevitz menambahkan.

David Straker, DO, seorang profesor klinis asisten asisten psikiatri di Columbia University Medical Center di New York City menyebut kebanyakan penulis adalah serigala tunggal. Dengan menulis sendiri dan tidak berinteraksi dengan orang lain, lalu menulis hingga larut malam atau bahkan hanya pada malam hari, memiliki kecenderungan yang kurang sehat.

"Hal ini dapat merusak jadwal tidur, yang juga dapat meningkatkan kemungkinan depresi," terang Dr Straker sembari menyebut kurang tidur, kurang olahraga, dan kurang cahaya alami, merupakan hal-hal yang bisa menjadi penyebab depresi.





(vit/up)