Selasa, 03 Des 2013 18:01 WIB

Ingin Simpan Stem Cell di Bank Tali Pusat? Ini Dia Biayanya

- detikHealth
ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Terapi stem cell, khususnya penyimpanan di bank tali pusat, kini tak lagi membutuhkan biaya transportasi tinggi ke luar negeri seperti Singapura dan Malaysia. Di Indonesia, khususnya Jakarta, sudah tersedia bank stem cell yang memenuhi standar Kementerian Kesehatan RI.

Proses pengambilan stem cell dari darah tali pusat dimulai saat bayi dilahirkan (persalinan normal maupun operasi caesar). Darah akan diambil oleh dokter setelah tali pusat diklem dan dipotong, sehingga tidak ada rasa sakit maupun risiko pada ibu dan bayi. Jika ibu ingin menyimpan tali pusat atau ari-ari si bayi, maka tidak menjadi masalah sebab yang diambil hanya darahnya saja, sedangkan bagian lain akan dikembalikan pada keluarga.

"Prosesnya kan dari melahirkan, nanti dikirim ke ProSTEM. Itu bisa melalui kurir kita yang ditelepon dan nanti diambil, atau boleh juga keluarga pasien yang mengantar ke sini. Klinik kami sudah memiliki izin dan kami sangat terbuka jika keluarga pasien ingin melihat prosesnya," ujar Dr Cynthia Retna Sartika, MSi, dari Prodia StemCell Indonesia (ProSTEM), dalam seminar media yang diselenggarakan di Auditorium Prodia Tower, Jl Kramat Raya, Jakarta, Selasa (3/12/2013).

Di laboratorium, darah tali pusat diproses untuk pemisahan stem cell. Begitu sudah didapatkan, stem cell akan disimpan pada suhu -196 derajat celcius dalam nitrogen cair di sebuah alat yang disebut sebagai cryotank, sehingga sel tetap dalam kondisi baik dan stabil. Stem cell ini nantinya bisa disimpan sampai usia anak mencapai 21 tahun.

Dilanjutkan oleh Cynthia, jika memang calon ibu ingin menyimpan stem cell dari tali pusat bayinya, sebaiknya dipersiapkan sejak hamil. "Jadi pertama registrasi dulu, dengan biaya sekitar Rp 1,5 juta. Pada tahap itu akan ada konseling. Kita berharap setelah konseling ada agreement terlebih dahulu," ungkapnya.

"Nanti kira-kira seminggu sebelum melahirkan, tim akan mengambil darah si ibu dan diperiksa. Nanti kalau ditemukan ada infeksi maka tidak kita teruskan. Takutnya akan mempengaruhi janin. Infeksinya seperti hepatitis B, hepatitis C, HIV dan penyakit sifilis," lanjut Cynthia.

Jika memang ditemukan tidak ada masalah pada darah ibu, maka proses akan dilanjutkan. Calon ibu juga harus memberi tahu dokter kandungannya bahwa ia akan menyimpan darah tali pusat bayi. "Karena kita harus meyakinkan kalau dokternya tahu. Nanti kita sampaikan dulu ke dokternya dan diajarkan cara perlakukan tali pusatnya," tutur Cynthia.

Setelah melahirkan dan tali pusat diambil, tim akan menyimpannya di suhu ruangan karena tali pusat diketahui bisa bertahan sampai 48 jam. Tali pusat tersebut juga akan kembali diperiksa di laboratorium mikrobiologi, apakah masih bisa digunakan atau mungkin sudah terkontaminasi pada saat persalinan.

"Total tahun pertama biayanya ditambah Rp 11 juta, ditotal dengan yang tadi jadi sekitar Rp 12,5 juta. Jadi dari awal kehamilan sampai usia kehamilan 9 bulan bisa dicicil. Penyimpanan per tahun berikutnya dikenakan biaya Rp 1,7 juta," terang Cynthia.

Selain dari tali pusat, stem cell bisa ditemukan juga pada sumsum tulang belakang dan darah tepi. Bedanya, stem cell tali pusat merupakan stem cell yang paling muda dan primitif dibandingkan sumber lain. Oleh karena itu, stem cell dari tali pusat dianggap paling ideal. Yang perlu diingat, hanya ada satu kesempatan untuk mengambil darah tali pusat, yaitu pada saat persalinan.

(ajg/vta)