Menguak Misteri Otak Penyandang Autisme

Menguak Misteri Otak Penyandang Autisme

dr Dito Anurogo - detikHealth
Senin, 09 Des 2013 18:46 WIB
Menguak Misteri Otak Penyandang Autisme
Jakarta - Apa bedanya otak penyandang autisme dengan otak orang normal? Pertanyaan ini adalah pertanyaan mendasar yang mengusik para ilmuwan neurosains, psikolog, dokter anak, psikiater, klinisi, dan praktisi di berbagai penjuru dunia.

Studi pencitraan (imaging studies) menunjukkan bahwa ada gangguan koneksi antara area Broca dan Wernicke, area otak yang terlibat di dalam memproduksi dan memahami bahasa, pada penderita autisme.

Otak Dewasa Autisme

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seorang dewasa dengan autisme akan berkurang konektivitasnya di otak bagian frontal-posterior, selama mengerjakan tugas yang terkait dengan bahasa, dibandingkan dengan orang dewasa normal. Seorang dewasa dengan autisme otak bahasanya cenderung aktif di bagian posterior. Aktivasi di bagian ini cenderung lebih luas dibandingkan dengan kontrol, dan bagian ini secara fungsional kurang terkoneksi (tersinkronisasi) dengan otak bagian frontal.

Di jaringan otak bagian hemisfer kiri, dewasa dengan autisme menunjukkan penekanan di bagian posterior pada pola aktivasi dengan aktivasi yang lebih besar di regio temporal (tepatnya di area Wernicke atau girus temporal superior kiri) dibandingkan dengan aktivasi di bagian frontal (area Broca atau girus frontal inferior kiri) baik pada pemahaman kalimat dan pada pembuatan keputusan semantik.

Dewasa dengan autisme juga menunjukkan berkurangnya aktivasi secara selektif di regio hemisfer kanan sebagai respon terhadap meningkatnya kesulitan di dalam memahami kalimat atau adanya kesengajaan informasi (theory-of-mind) selama 'discourse comprehension'.

Intinya, otak penyandang autisme berbeda dengan otak orang yang normal dalam hal:

1. derajat koordinasi jaringan

2. distribusi 'workload' di antara anggota 'nodes'

3. pengerahan dinamis bagian-bagian sebagai resposn terhadap isi teks (dynamic recruitment of regions in response to text content).

Beberapa peneliti telah menggunakan integrasi semantik dan tugas 'word-generation' pada remaja dengan autism spectrum disorder (ASD), usia 11–19, dan kontrol sesuai usia. Kelompok ASD memiliki lebih banyak aktivasi di area Broca. Pola aktivasinya kurang terlateralisasi dibandingkan dengan kelompok typical development (TD). Kelompok ASD memiliki pola aktivasi yang lebih difus jika dibandingkan dengan kelompok TD.

Pada studi 'irony processing', anak-anak dan remaja dengan ASD, usia 7–16 tahun, menunjukkan aktivasi yang secara signifikan lebih besar di otak bagian girus frontal inferior kanan, temporal tengah dan superior kiri, dan girus postcentral kiri jika dibandingkan dengan kelompok anak-anak TD berdasarkan usia dan intelligence quotient (IQ). Para peneliti berhasil menginterpretasikan adanya peningkatan aktivasi sebagai penggunaan maksimal dari 'neural circuitry' normatif yang terkait erat dengan proses yang terlibat di dalam memahami kondisi mental.

Berbagai studi ini membuktikan bahwa anak-anak dan remaja dengan autisme menunjukkan beragam kesulitan di dalam basis neurofungsional dari proses (ber)bahasa, serupa dengan yang ditunjukkan oleh dewasa. Bagaimanapun juga, efek di regio otak tertentu tampaknya agak berbeda dari apa yang telah dilaporkan ilmuwan untuk kelompok dewasa.

Otak Anak Autisme

Banyak anak dengan autisme terlambat mengucapkan kata-kata pertama mereka, dan sekitar 25 persen mereka menjadi nonverbal. Otak dewasa dengan autisme tentunya berbeda dengan otak anak dengan autisme. Anak-anak dengan autisme menunjukkan kurangnya aktivasi di otak bagian ujung temporal kanan (right temporal pole) dibandingkan kontrol selama mereka mendengar pseudo-words dengan suku kata yang panjang (long syllables).

Pencitraan otak (brain imaging) menunjukkan bahwa anak-anak dengan autisme memiliki aktivasi yang lebih lemah di otak bagian korteks prefrontal kiri dan korteks cingulate kiri, area yang terkait dengan keterampilan berbahasa, selama mengerjakan tugas terkait dengan tata bahasa (grammar) dibandingkan dengan kelompok kontrol. Menariknya, anak-anak dengan gejala-gejala autisme yang lebih berat menunjukkan aktivasi paling minimal di otak bagian korteks prefrontal kiri, membuktikan bahwa daerah ini terkait erat dengan kesulitan memahami tata bahasa yang dihadapi anak-anak ini.

*) dr Dito Anurogo adalah penulis 14 buku dan berkarya di Neuroscience Department, Brain Circulation Institute of Indonesia, Surya University.

(/up)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads