Nadinya Robek Saat Operasi Usus Buntu, Gadis Ini Meninggal

Nadinya Robek Saat Operasi Usus Buntu, Gadis Ini Meninggal

Muamaroh Husnantiya - detikHealth
Rabu, 11 Des 2013 08:30 WIB
Nadinya Robek Saat Operasi Usus Buntu, Gadis Ini Meninggal
Ilustrasi (dok: Thinkstock)
Jakarta - Umumnya operasi biasa seperti operasi usus buntu tidak akan mengakibatkan kematian. Namun, Victoria Harrison yang masih berusia 17, meninggal setelah ia menjalani operasi pengangkatan usus buntu di Rumah Sakit Umum Kettering, England. Kematiannya disebabkan karena ia mengalami pendarahan internal pasca operasi.

Sebelum meninggal, gadis tersebut bahkan sempat mengirimkan foto kaosnya yang dipenuhi darah kepada pacarnya.

"Saya mendapat pesan yang mengatakan bahwa ia mengalami pendarahan dari salah satu lubang operasi dan ia mengirimi saya sebuah foto," ungkap pacarnya sebagaimana dilansir dari Daily Mail, Rabu (11/12/2013).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Awalnya Victoria menderita sakit perut yang disebabkan usus buntu. Kemudian ia dirawat di rumah sakit untuk menjalani operasi usus buntu. Sialnya, saat operasi berlangsung ia malah mengalami pendarahan internal. Penyebabnya, ketika dokter sedang memasukkan kamera mikro ke dalam perut Victoria, tanpa sengaja arteri gadis itu tergores.

Staf operasi akhirnya berhasil memperbaiki lubang pada nadi gadis itu dan pendarahan berhenti. Tapi tidak tercatat jelas dalam catatan medis berapa banyak pendarahan yang terjadi.

Dokter yang mengoperasinya, Shady Hosny, menuturkan bahwa saat operasi ia hanya menemukan sedikit pendarahan sehingga ia tetap melanjutkan operasi usus buntu.

"Selama operasi, saya menemukan pendarahan yang minimal, jumlahnya sangat sedikit. Dalam tahap tersebut saya tidak risau dan tetap melanjutkan operasi pembuangan usus buntu," ujar dokter itu.

Karena hanya ada sedikit darah, tim operasi mengira bahwa Victoria tidak mengalami pendarahan. Seusai operasi Victoria menjalani perawatan biasa. Namun keesokan harinya, gadis berusia 17 itu meninggal karena telah kehilangan separuh darahnya.

Berdasarkan pemeriksaan resmi, diduga perawat gagal mengidentifikasi catatan medis gadis itu. Padahal dari catatan medis, seharusnya dapat diindikasikan bahwa ia mengalami pendarahan hebat selama operasi.

Victoria tidak dicek secara cermat oleh perawat. Perawat tersebut gagal dalam mengecek tekanan darah yang seharusnya dapat menunjukkan bahwa Victoria mengalami pendarahan internal yang hebat.

Meskipun telah mengeluh kesakitan, perawat hanya memberi Victoria morfin untuk menghilangkan rasa sakit. Akhirnya, gadis itu kehilangan banyak darah. Ia menderita gagal jantung dan meninggal pukul 7 pagi, hari berikutnya setelah ia menjalani operasi.

Salah satu staf perawat, Marites Salvador, telah mengakui bahwa ia tidak melakukan observasi yang layak saat Victoria tidur. "Saya tidak melakukan observasi yang layak karena ia tertidur dan saya tidak ingin mengganggunya," ujarnya Marites.

Tim medis harus berhati-hati dan jeli dalam merawat pasien. Hal-hal kecil seperti tekanan darah pun sangat menentukan kondisi pasien. Kasus Victoria menunjukkan bahwa sedikit ketidakjelian perawatan medis dapat menimbulkan masalah yang dapat mengarah pada kematian.

(up/up)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads