Alergi Debu, Mahasiswi Ini Tak Bisa Buka Buku dan Terpaksa DO

Alergi Debu, Mahasiswi Ini Tak Bisa Buka Buku dan Terpaksa DO

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Kamis, 12 Des 2013 07:34 WIB
Alergi Debu, Mahasiswi Ini Tak Bisa Buka Buku dan Terpaksa DO
dok: Dailymail
Jakarta -

Keinginannya sederhana, ia hanya ingin menyelesaikan pendidikannya di jurusan Bahasa Inggris agar bisa memenuhi mimpinya sebagai guru. Tapi ia terpaksa harus drop out karena alergi debu yang membahayakan nyawanya.

Alergi yang diidap Kirsty Ashman itu membuatnya tak bisa berada di ruang belajar mahasiswa atau ruang kuliah yang berdebu, karena itu bisa membunuhnya sewaktu-waktu.

Awalnya Kirsty berkuliah di Queen Mary's University, London namun itu hanya berlangsung satu semester karena alergi membuatnya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit ketimbang di kampus.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lalu ia memutuskan untuk pindah ke Anglia Ruskin University di Cambridge, meski untuk bisa ke kampus ini Kirsty harus menggunakan kereta komuter setiap hari dari rumahnya. Di kampus ini ia sempat bertahan hingga hampir setahun sebelum serangkaian serangan asma memaksanya untuk drop out.

Dalam dua tahun itu, Kirsty tercatat mengalami lebih dari 15 kali serangan asma mematikan akibat terpapar debu, rumput, serbuk sari, bulu binatang dan jamur.

"Toilet dan kantin kampus juga selalu berbahaya karena produk pembersihnya pun dapat memicu serangan," katanya seperti dilansir Daily Mail, Kamis (12/12/2013).

Gadis berusia 22 tahun ini sebenarnya sudah mengidap demam hay (hay fever) sejak kecil tapi gejalanya mulai terlihat makin parah ketika usianya menginjak 18 tahun karena infeksi pada dadanya. Kondisi ini menyebabkan reaksi alergi yang dimiliki Kirsty juga makin buruk.

"Suatu hari saya sedang belajar. Saya pun minta tolong kepada teman-teman untuk mengambilkan buku dari rak perpustakaan yang memang menjadi area berbahaya bagi saya. Ketika buku itu sampai ke tangan saya dan saya membukanya, sepertinya debu masuk ke dalam wajah saya karena saya merasa saluran pernapasan saya menutup dan saya mengalami sesak napas," kisah Kirsty tentang salah satu serangan asma yang terjadi padanya.

Saat itu, karena reaksi alerginya parah, lagi-lagi Kirsty harus dilarikan ke rumah sakit.

"Saya begitu putus asa untuk mendapatkan gelar dan menyelesaikan studi, tapi ternyata saya harus mengutamakan kesehatan. Alergi saya makin lama makin parah hingga saya ketakutan masuk perpustakaan atau ruang publik karena menghirup sedikit debu saja dapat menyebabkan serangan asma yang menutup seluruh saluran pernapasan saya," tutur gadis asal Haverhill, Suffolk UK ini.

Kirsty mengaku telah menjauhi area-area publik yang memungkinkan terjadinya serangan, tapi ada begitu banyak aspek dalam gedung universitas yang tak dapat ia kontrol. "Seperti perpustakaan dan ruang belajar yang selalu berdebu, buku-bukunya juga bisa memicu alergi saya, bahkan saya harus minta bantuan teman untuk mengambilkan buku dari rak," sambungnya.

Karena kondisi serupa terus terjadi, akhirnya gadis bertubuh tambun ini terpaksa menggantungkan mimpinya menjadi guru Bahasa Inggris demi kondisi kesehatannya. Sebagai gantinya, Kirsty belajar ilmu kedokteran di Universitas Terbuka dari rumah, satu-satunya tempat yang aman baginya.

Ini didukung oleh keluarga Kirsty yang sangat memperhatikan kebersihan rumah mereka. Mereka harus membersihkan debu di penjuru rumah dengan vacuum cleaner setiap hari, termasuk mengganti sprei kasur hipoalergenik khusus untuk Kirsty.

Di rumah Kirsty juga dilarang membuka jendela, terutama di musim panas karena bisa membuat serbuk sari masuk ke dalam rumah. Dan keluarga ini memiliki sebuah filter udara untuk membersihkan partikel-partikel debu yang mungkin melayang-layang di dalam rumah mereka.

Satu-satunya hal yang disesalkan Kirsty adalah ia tak lagi bisa merasakan pengalaman duduk di bangku kuliah secara langsung dan mendapatkan ilmu dari sana. 'Alergi ini memberikan dampak yang begitu besar pada hidup saya, bahkan hingga mempengaruhi pilihan saya di masa depan," pungkasnya.

(/)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads