Selasa, 17 Des 2013 07:01 WIB

Workaholic, Baik atau Buruk?

- detikHealth
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Meninggalnya Mita Diran, seorang copywriter muda, setelah sebelumnya bekerja lembur selama 30 jam ditambah dengan konsumsi minuman berenergi memunculkan berbagai pertanyaan. Salah satunya, apakah workaholik itu berbahaya?

Teman Mita menyebutkan bahwa ketika dia bertanya kenapa Mita kerap bekerja hingga larut malam, Mita menjawab ia menyukai bidang pekerjaannya. Sementara itu Handoko Hendroyono, ketua Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I) yang juga sahabat dari ayahanda Mita mengatakan bahwa Mita adalah pekerja keras. Pernyataan itu dikutipnya dari ucapan ayahanda Mita.

Istilah pekerja keras atau workaholic sering dikaitkan dengan orang yang amat sangat senang bekerja, bahkan sampai lupa waktu. Mereka sering bekerja hinga larut malam, bahkan ada pula yang tidak pernah libur bekerja dalam seminggu. detikhealth mengumpulkan fakta dan mitos tentang workaholic seperti dikutip dari psychologytoday.com pada Senin (16/12/2013):

1. Karoshi di Jepang

Karoshi atau kematian akibat lembur (overwork) menyebabkan 1.000 kematian tiap tahunnya. Sementara itu, 5 persen dari kematian karena stroke dan serangan jantung terjadi pada kelompok usia di bawah 60 tahun.

2. Leisure illness di Belanda

Penelitian dari Belanda menemukan adanya gejala penyakit baru yang disebut dengan leisure illness atau sakit ketika libur. Penelitian itu menyebutkan sekitar 3 persen dari populasi Belanda mempunyai kondisi tersebut. Para pekerja benar-benar menjadi sakit ketika mereka mencoba santai di hari libur atau ketika berhenti bekerja.

Faktor Penyebab Workaholic

Dari kejadian yang dialami oleh Mita, bisa disimpulkan bahwa ia rela bekerja hingga larut malam dikarenakan ia sangat menyukai bidang pekerjaannya tersebut. Namun ternyata bukan hanya kesukaan pada bidang pekerjaan saja yang membuat seseorang menjadi workaholic. Berikut ini faktor-faktor lainnya:

1. Kekayaan

'Semakin sering bekerja, maka akan membuat semakin kaya.' Pernyataan tersebut dipercayai oleh sebagian besar kelas pekerja menengah ke bawah di Amerika. Mereka mengatakaan bahwa keinginan untuk menjadi lebih kaya daripada 'orang di sebelah mereka' membuat mereka terpacu untuk meningkatkan status sosialnya.

Ternyata anggapan tersebut tidak benar adanya. New York Times merilis data bahwa persentase para kelas pekerja menengah kebawah yang naik statusnya tidak mengalami perubahan berarti selama 80 tahun terakhir.

2. Kecanduan yang terhormat

Para workaholic di Amerika Serikat dan Canada percaya bahwa menjadi workaholic adalah sesuatu yang dibanggakan. Bahkan sepertiga dari penduduk Kanada mengakui bahwa mereka adalah workaholic.

Bryan Robinson, PhD, pakar yang banyak menulis buku tentang workaholism, mengatakan bahwa memang benar jika workaholism disebut sebagai kecanduan. "Memang benar bahwa itu (workaholism) merupakan suatu kecanduan. Namun itu tidak sama dengan bekerja keras," ujarnya.

3. Pelarian dari kehidupan

Orang-orang workaholic cenderung tidak memiliki sahabat serta teman yang dekat. Mereka sangat terobsesi pada pekerjaan mereka sehingga tidak sempat menghabiskan waktu bersama rekan kerja, teman dan kerabat, bahkan keluarga.

Penelitian di Amerika menunjukkan bahwa orang-orang workaholic memiliki masa kecil yang tidak menyenangkan. Mereka cenderung berasal dari keluarga disfungsional sehingga lebih memilih untuk memfokuskan dirinya pada hal lain.

(up/vit)