Penderita IED biasanya kesulitan mengendalikan amarah dan kemarahan itu bisa berkembang hingga tak dapat dikendalikan meski penyebabnya adalah hal sepele. Mereka merasa lega ketika kemarahan itu meledak keluar. Dan setelahnya, mereka merasa bersalah atas tindakan yang dilakukan. Rumit? Untungnya kini para peneliti telah menemukan solusinya.
Dikutip dari Telegraph pada Senin (23/12/2013), sebuah riset di Amerika menemukan bahwa obat anti-peradangan, yang salah satunya adalah aspirin, ternyata dapat membantu mengendalikan sindrom lekas marah. Sindrom IED ini didefinisikan sebagai ketidakmampuan dalam mengendalikan impuls untuk bereaksi secara agresif.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Darah penderita sindrom lekas marah memiliki lebih banyak tanda yang menunjukkan terjadinya peradangan, ungkap para peneliti di Amerika. Para penderita sindrom lekas marah juga memiliki level protein dua kali lebih tinggi dibanding orang biasa. Dua hal itu, tingginya peradangan dan protein, dikorelasikan dengan sikap yang agresif dan impulsif.
"Dua tanda itu secatra konsisten dihubungkan dengan sikap yang agresif dan impulsif, tetapi tidak berhubungan dengan masalah kejiwaan lain," ujar Profesor Emil Coccaro, kepala peneliti Universitas Chicago.
Para peneliti belum tahu apakah inflamasi memicu sifat agresif, ataukah sifat agresif yang menyebabkan terjadinya inflamasi. Namun mereka yakin bahwa sindrom lekas marah berkorelasi kuat dengan inflamasi.
Sindrom lekas marah sering disalahartikan sebagai perilaku yang buruk. Padahal, sindrom tersebut sebenarnya adalah gangguan mental. Meski sering diremehkan, pada tahun 2006, gangguan ini telah menyerang 5% orang dewasa. Jika ternyata Anda salah satu penderita IED, aspirin dapat membantu.
(vit/up)











































