Pria 'Jantan' Ternyata Lebih Mudah Terserang Virus

Pria 'Jantan' Ternyata Lebih Mudah Terserang Virus

M Reza Sulaiman - detikHealth
Selasa, 24 Des 2013 13:30 WIB
Pria Jantan Ternyata Lebih Mudah Terserang Virus
Foto: Ilustrasi (Thinkstock)
Jakarta - Pria dengan karakteristik 'jantan' biasanya menjadi idola para wanita. Apalagi jika didukung dengan fisik yang macho dan wajah yang tampan dan rupawan. Namun hati-hati, pria-pria tersebut ternyata lebih rentan terserang virus.

Peneliti dari Stanford University mengungkapkan bahwa pria-pria tersebut ternyata memiliki kadar hormon testosteron yang lebih tinggi dari pada pria kebanyakan. Hal ini membuat sistem kekebalan tubuh mereka menjadi lebih lemah daripada pria umumnya. Namun keadaan tersebut tidak ditemukan pada pria dengan hormon testosteron yang rendah.

Memang sudah diketahui sejak lama bahwa pria cenderung terkena efek yang lebih parah jika terinfeksi bakteri, virus, jamur, dan parasit. Pria juga memiliki respon tubuh yang lebih lemah terhadap vaksi influenza, demam kuning. campak, hepatitis dan penyakit lainnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun sebaliknya, wanita memiliki sistem imunitas yang lebih kuat dikarenakan tingginya protein yang memberi sinyal tentang adanya infeksi pada sel-sel tubuh. Lebih lanjut, penelitian sebelumnya yang dilakukan pada binatang menunjukkan bahwa testosteron menghalangi pemberian sinyal tersebut, sehingga menyebabkan adanya peran yang berlawanan antara hormon tersebut dan sistem imunitas tubuh.

Meski begitu, hubungan antara testosteron dan sistem imunitas ternyata lebih kompleks. Testosterone nampaknya hanya bereaksi pada gen tertentu, yang menyebabkan tidak adanya hubungan antara level antibodi yang lebih tinggi dengan kekuatan respon sistem imunitas tubuh terhadap infeksi.

"Ini adalah penelitian pertama yang menunjukkan ada korelasi yang jelas antara level testosteron, ekspresi gen, dan respon sistem imunitas pada manusia. Hal ini mungkin harus diperhatikan oleh para pemakai testosteron di luar sana," ujar Mark Davis, Direktur Stanford Institute for Immunity Transplantation and Infection, seperti dilansir medicaldaily dan ditulis detikhealth pada Selasa (24/12/2013).

Penelitian ini dimulai pada tahun 2008 dengan menganalisis sampel darah yang diambil dari peserta vaksinasi. Selanjutnya, peneliti menggunakan teknologi paling unggul untuk memeriksa puluhan ribu variabel, seperti peredaran protein pemberi sinyal pada sistem imunitas dan bermacam-macam bentuk sel darah.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa testosterone mempengaruhi sekelompok gen dalam sistem imunitas yang dikenal dengan nama "Module 52". Dalam prosesnya, kadar testosteron yang besar memicu aktifasi gen-gen tersebut sehingga meminimalisir produksi antibodi virus.

Davis mengungkapkan bahwa memang testosteron seakan memperlemah pria. Padahal testosteron jugalah yang memproduksi kekuatan dan kejantanan yang disimbolkan dengan otot, kumis dan janggut, dan toleransi yang lebih besar pada resiko.

(/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads