Senin, 30 Des 2013 10:22 WIB

Jam Besuk 24 Jam, Benarkah Bermanfaat Bagi Pasien?

- detikHealth
Foto: Ilustrasi (Thinkstock)
Jakarta - Jam besuk memang saat-saat yang paling ditunggu oleh pasien yang dirawat di rumah sakit. Mereka dapat bertemu dengan keluarga, kerabat, serta rekan yang datang menjenguk dan memberikan dukungan moril.

Wacana tentang jam besuk 24 jam memang bukan hal baru, namun sebagian kalangan menilai hal tersebut akan memberikan beban pekerjaan yang lebih berat bagi para perawat dan dokter yang bertugas. Namun menurut studi yang diterbitkan Journal of Healthcare Quality, tidak adanya peraturan tentang jam besuk dapat membuat pasien lebih merasa puas.

"Pengalaman kami membuktikan bahwa jam besuk yang bebas pada pasien rawat inap dapat dilakukan tanpa gangguan berarti. Hal itu juga meningkatkan kepuasaan pasien dan keluarganya," ujar Dr. David J. Shulkin, ketua tim peneliti sekaligus direktur dari Morristown Medical Center.

Morristown Medical Center yang terletak di New Jersey, New York dipilih sebagai tempat penelitian tersebut dilakukan. Penelitian dilakukan selama delapan bulan mulai dari Maret 2012 sampai dengan Oktober 2012. Data menunjukkan bahwa 14.444 pengunjung datang bukan pada jam besuk, yakni pada pukul 8 malam sampai dengan 5 pagi. Meski begitu, Dr. Shulkin mengatakan tidak ada keluhan yang datang dari stafnya.

Kebijakan tentang jam besuk 24 jam memang sudah dilakukan di banyak rumah sakit di eropa, namun masih banyak rumah sakit lain di dunia yang membatasi jam besuk hingga pukul 8 malam. Padahal menurutnya pasien harus mempunyai pilihan sendiri untuk menentukan jam besuk yang diinginkannya, bukan rumah sakit.

"Membantu pasien berada di dekat keluarga dan orang yang dicintainya adalah komponen penting dalam proses penyembuhan. Hal ini diyakini dapat meredakan kegelisahan dan isolasi sosial yang dirasakan pasien rawat inap," lanjutnya seperti dilansir medicaldaily dan ditulis pada Senin (30/12/2013)

Penelitian sebelumnya yang dilakukan pada perawat dan dokter mengatakan bahwa meskipun pemberlakuan jam besuk 24 jam sedikit melelahkan, mereka percaya hal tersebut mampu membantu mengurangi beban mental yang dirasakan oleh pasien rawat inap.

Hal ini berkaitan dengan penelitian lain yang mengatakan bahwa orang terdekat (keluarga dan pasangan) ingin memiliki peran lebih dalam membantu proses pemulihan pasien. Sementara itu, risiko keamanan dan kenyamanan yang ditakutkan oleh rumah sakit dapat diatasi dengan hanya membuka satu pintu masuk ke rumah sakit. Sehingga proses indentifikasi serta pengarahan pengunjung dapat dilakukan secara satu per satu.

"Tidak ada keluhan tentang pekerjaan yang lebih berat. Itu hanya mitos. Para perawat dan dokter merasa bahwa keluarga dan kerabat yang berkunjung dapat memberikan ketenangan serta membuat pasien lebih kooperatif dalam proses penyembuhan," pungkas Dr. Shulkin.

(vta/vta)