Wacana tentang jam besuk 24 jam memang bukan hal baru, namun sebagian kalangan menilai hal tersebut akan memberikan beban pekerjaan yang lebih berat bagi para perawat dan dokter yang bertugas. Namun menurut studi yang diterbitkan Journal of Healthcare Quality, tidak adanya peraturan tentang jam besuk dapat membuat pasien lebih merasa puas.
"Pengalaman kami membuktikan bahwa jam besuk yang bebas pada pasien rawat inap dapat dilakukan tanpa gangguan berarti. Hal itu juga meningkatkan kepuasaan pasien dan keluarganya," ujar Dr. David J. Shulkin, ketua tim peneliti sekaligus direktur dari Morristown Medical Center.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kebijakan tentang jam besuk 24 jam memang sudah dilakukan di banyak rumah sakit di eropa, namun masih banyak rumah sakit lain di dunia yang membatasi jam besuk hingga pukul 8 malam. Padahal menurutnya pasien harus mempunyai pilihan sendiri untuk menentukan jam besuk yang diinginkannya, bukan rumah sakit.
"Membantu pasien berada di dekat keluarga dan orang yang dicintainya adalah komponen penting dalam proses penyembuhan. Hal ini diyakini dapat meredakan kegelisahan dan isolasi sosial yang dirasakan pasien rawat inap," lanjutnya seperti dilansir medicaldaily dan ditulis pada Senin (30/12/2013)
Penelitian sebelumnya yang dilakukan pada perawat dan dokter mengatakan bahwa meskipun pemberlakuan jam besuk 24 jam sedikit melelahkan, mereka percaya hal tersebut mampu membantu mengurangi beban mental yang dirasakan oleh pasien rawat inap.
Hal ini berkaitan dengan penelitian lain yang mengatakan bahwa orang terdekat (keluarga dan pasangan) ingin memiliki peran lebih dalam membantu proses pemulihan pasien. Sementara itu, risiko keamanan dan kenyamanan yang ditakutkan oleh rumah sakit dapat diatasi dengan hanya membuka satu pintu masuk ke rumah sakit. Sehingga proses indentifikasi serta pengarahan pengunjung dapat dilakukan secara satu per satu.
"Tidak ada keluhan tentang pekerjaan yang lebih berat. Itu hanya mitos. Para perawat dan dokter merasa bahwa keluarga dan kerabat yang berkunjung dapat memberikan ketenangan serta membuat pasien lebih kooperatif dalam proses penyembuhan," pungkas Dr. Shulkin.
(/)










































