Jumat, 10 Jan 2014 14:05 WIB

Pencemaran Timbal (2)

Peleburan Aki Bekas: Penebar Racun yang Terabaikan

- detikHealth
Peleburan aki bekas (dok: KPBB)
Jakarta - Peleburan aki bekas yang dilakukan secara tradisional sejak tahun 1970-an menyisakan masalah di Desa Cinangka, Kecamatan Ciampea, Bogor, Jawa Barat. Jejak pencemaran logam berat ditemukan di semua titik di desa ini dan telah meracuni penduduk terutama anak-anak.

Kasat mata, bekas-bekas lempengan elektroda-berlapis-timah yang menghitam, dan serat (fiber) elemen pembatas mudah sekali dijumpai di pinggir-pinggir jalan dan di halaman penduduk. Begitu juga di lapangan sepakbola di dekat SDN Cinangka 02, tempat anak-anak menghabiskan waktunya untuk bermain.

Di salah satu rumah warga, casing aki bekas yang berukuran besar bahkan dipakai sebagai ember dan bak penampung air. Asal sudah dibersihkan dan tidak menyebabkan gatal, pemilik rumah menganggapnya aman-aman saja. Tidak terpikir sedikitpun sebelumnya bahwa bekas timbal (Pb) yang masih melekat merupakan racun yang berbahaya.

Hendrawan, salah seorang perangkat desa yang ditemui detikHealth menjelaskan, industri peleburan ilegal mulai marak di tempat itu sejak tahun 1970-an. Pada masa itu, industri peleburan resmi kebanjiran import aki bekas dari Taiwan. Karyawan yang membawa pulang aki bekas untuk dikerjakan di rumah masing-masing akhirnya menularkan ketrampilan itu ke tetangga yang lain.

"Modalnya cuma tungku sama blower, siapa saja bisa mengerjakan. Dulu sih banyak, tapi sekarang tinggal 6 rumah saja yang masih punya tungku. Itu pun banyak yang sudah berhenti beroperasi karena warga lainnya mulai banyak yang protes, mulai sadar bahayanya," katanya.







Industri ilegal yang dikerjakan secara tradisional ini banyak mencemari lingkungan. Fiber atau serat dari elemen-pembatas bisa menyebabkan gatal-gatal saat mengalami kontak langsung dengan kulit. Asam sulfat (H2SO4) dalam cairan aki yang dibuang sembarangan akan mencemari sumber air, sedangkan asap pembakarannya membawa pertikel logam berat termasuk Pb.

Pekerja yang melakukan peleburan maupun penduduk di sekitarnya paling banyak terpapar racun Pb saat menghirup asap pembakaran. Partikel Pb yang tidak terhirup juga akan mengalami deposisi atau pengendapan di permukaan tanah. Anak-anak yang senang bermain di lapangan kemudian makan tanpa cuci tangan banyak terpapar lewat jalur ini.

"Untuk sekarang, 55 persen paparan Pb pada anak terjadi melalui tanah," kata Ahmad Syafrudin, direktur Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB), yang saat ini tengah mengerjakan proyek enkapsulasi limbah aki bekas di desa tersebut.

Riset KPBB bersama Blacksmith Institute dari Amerika Serikat menunjukkan bahwa cemaran Pb dalam darah anak-anak Desa Cinangka mencapai rata-rata 36,62 mcg/dL. Kadar tertinggi bahkan mencapai 65 mcg/dL, hampir 7 kali lipat dari ambang yang ditetapkan WHO yakni 10 mcg/dL

Tingginya pencemaran Pb di Desa Cinangka diyakini berhubungan dengan banyaknya kasus gangguan mental yang dialami anak-anak di wilayah tersebut. Dari 240 anak yang diamati, sebanyak 12 anak (5 persen) terindikasi idiot. Belum ada studi epidemilogi untuk memastikan bahwa keduanya memiliki hubungan sebab akibat, namun beberapa kalangan meyakini demikian.

Pakar kesehatan lingkungan dari Universitas Indonesia, Dr R Budi Haryanto, SKM, MKes, Msc, tak meragukan adanya keterkaitan tersebut. Dari bukti-bukti awal yang ditemukan KPBB, ia menilai hampir bisa dipastikan bahwa gangguan mental yang dialami anak-anak Desa Cinangka disebabkan oleh tingginya pencemaran Pb selama puluhan tahun.

"Bisa saja memang ada faktor lain. Tapi nyatanya itu hanya terjadi di Cinangka, tidak di tempat lain yang tidak ada peleburan aki bekasnya," kata Budi.

Beroperasi Sembunyi-sembunyi

Bahaya pencemaran Pb sebenarnya mulai disadari warga, terbukti dengan banyaknya dukungan terhadap proyek isolasi limbah aki bekas yang sedang dilakukan KPBB dan Blacksmith Institute. Selain operator backhoe, hampir semua pekerja yang dilibatkan dalam proyek tersebut berasal dari kalangan penduduk setempat yang memang terbiasa menangani limbah semacam itu.

Namun begitu, industri peleburan aki bekas belum benar-benar mati di desa tersebut. Aktivitas peleburan masih kerap dilakukan meski harus sembunyi-sembunyi pada malam hari. Beberapa pemilik tungku sepertinya masih bergantung pada industri ilegal tersebut dan sulit untuk beralih ke mata pencaharian lain.

"Memang sulit, sebab dari peleburan seperti itu mereka bisa menghasilkan Rp 30-40 juta perbulan," kata Syafrudin yang mengaku masih sering menerima keluhan dari warga tentang adanya bau asap dari tungku-tungku peleburan, terutama setelah lewat tengah malam.

Hasil peleburan Pb biasanya akan ditampung oleh agen, yang kemudian akan menyalurkannya lagi ke industri yang membutuhkan seperti industri elektronik dan juga aki rekondisi. Diakui oleh Syafrudin, tingginya nilai ekonomi dari industri peleburan aki bekas ilegal memicu keengganan dari sebagian warga untuk beralih ke mata pencaharian yang lain.




(up/vit)