Gara-gara Minum Obat Insomnia, Pria Ini Overdosis

Gara-gara Minum Obat Insomnia, Pria Ini Overdosis

Muamaroh Husnantiya - detikHealth
Sabtu, 11 Jan 2014 14:00 WIB
Gara-gara Minum Obat Insomnia, Pria Ini Overdosis
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
West Midlands - Tanpa petunjuk dan resep dokter, jangan coba-coba menangani keluhan dengan sembarang minum obat. Jika dikonsumsi sembarangan, obat bisa menyebabkan berbagai efek samping termasuk kematian karena over dosis. Demikian yang dialami Jason Nock (41), pria yang meninggal overdosis karena minum obat insomnia yang dibelinya secara online.

Nock telah menderita insomsia selama bertahun-tahun dan kerap melewati malam tanpa tidur. Merasa tersiksa dengan gangguan tidur yang dialaminya, ia lantas mengonsumsi obat insomsia secara tidak teratur. Kadang ia meminumnya, terkadang tidak.

Pria itu meninggal setelah sebelumnya menenggak obat seperti morfin yang dapat membantunya tidur lelap. Ia mendapatkan obat insomnia dari situs online tanpa rekomendasi atau resep dokter.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meninggalnya Nock terjadi 17 Agustus tahun lalu. Pagi itu Istri Nock, Lea Maninang, harus mematikan alarm karena suaminya tidak kunjung bangun. Ia lantas melarikan suaminya ke Rumah Sakit Russells Hall. Namun kemudian, Nock dinyatakan meninggal karena over dosis. Nock meninggalkan istrinya berserta seorang putri yang masih berusia satu tahun.

Pemeriksaan mengindikasikan kadar obat dalam darah Nock hampir lima kali dosis batas. Dari pemeriksaan diketahui bahwa kadar obar dalam darahnya adalah 4,46 miligram per liter. Padahal, kadar 0,81-0,99 miligram per liter saja sudah berakibat fatal. Demikian ungkap Dr Sixto Batitang, konsultan ahli patologi rumah sakit, kepada petugas penyelidik.

Dari istrinya, diketahui bahwa Nock telah beralih ke obat buatan setelah bertahun-tahun dilanda insomnia. Dan meski Nock membeli obat secara online, ia bukan seorang pecandu.

"Dia memesan dari internet dan mereka mengirimkannya. Aku tahu ia mengonsumsi obat-obat itu sejak aku pindah bersamanya pada tahun 2012," ungkap Maninang sebagaimana dikutip dari Daily Mail, Sabtu (11/1/2014).

"Beberapa waktu lalu sebelum meninggal, dia bilang obat itu membantunya untuk bisa tidur. Terkadang ia meminumnya dan terkadang tidak," tambahnya, sembari berlinang air mata.

Menurut Dr Batitang, obat yang dikonsumsi oleh Nock bekerja dan bersifat seperti morfin. Obat tersebut juga memiliki tingkat toksisitas atau tingkat merusak yang tinggi.

"Kemungkinan keracunan karena obat tersebut sangat tinggi," tutur Dr Batitang.

Untuk mengatasi insomnia, biasanya dokter meresepkan obat dengan dosis yang paling rendah. Dokter hanya akan memberikan obat pada pasien dengan kasus insomnia parah, dan obat hanya diberikan dalam jangka pendek. Tanpa resep dokter dan panduan apoteker, orang tidak tahu obat apa yang dikonsumsi dan bagaimana bahayanya. Mereka juga tidak tahu berapa banyak dan seberapa sering obat harus dikonsumsi agar tidak menimbulkan masalah.

Mengapa dokter sangat berhati-hati memberikan obat insomnia? Penyebabnya adalah karena obat anti-insomnia pada dasarnya tidak benar-benar mengobati penyebab masalah. Dokter justru terkadang menyarankan pasien untuk berkonsultasi pada psikologis untuk mencari metode pengobatan lain.

Orang bisa dengan mudah tergantung pada obat tidur meski obat-obat itu baru digunakan sebentar. Oleh sebab itu, seharusnya pasien selalu berkonsultasi pada dokter atau apoteker.

(/)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads