Saat itu awal Januari 2014. Jake Thomas tengah menyiangi rumput di sekitar makam putrinya di Australia timur. Tak disangka ia menjumpai seekor ular hitam di atas nisan seseorang yang berdekatan dengan sang putri.
"Saya melihat ular hitam dengan perut berwarna merah. Ia berada di dalam vas di atas makam sebelah putri saya. Ia tak bergerak dan tampaknya terjebak di dalam vas. Sepertinya panjangnya mencapai dua kaki," kisah Jake kepada harian Border Mail.
Jake yang juga seorang sukarelawan di kawasan makam bernama Werris Creek Cemetery itu pun tak ingin siapapun terkena gigitan ular berbisa tersebut. Lalu dengan sekop yang dibawanya, ia mendatangi ular itu dan membelahnya jadi dua dan kembali pada aktivitas yang ia lakukan sebelumnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ternyata ular itu menyambar tangan saya meski sebenarnya ia sudah mati. Ketika tangan saya tarik keluar, saya melihat ada dua bekas gigitan dan saya langsung tahu jika ia berhasil menggigit saya," ungkap Jake seperti dilansir Daily Telegraph, Selasa (21/1/2014).
Jake mengira ia takkan tergigit oleh si ular hitam setelah ia berhasil memotongnya jadi dua. Tanpa disangka ular 'mati' itu malah bisa menggigit tangan pria berusia 66 tahun itu sebanyak dua kali.
Awalnya Jake dibawa ke rumah sakit setempat untuk mendapatkan pengobatan hingga akhirnya ia dipindahkan ke Tamworth Hospital di mana ia diberi vaksin anti-racun untuk mencegah bisa dari ular tersebut menyebar ke dalam tubuhnya dan diopname selama dua hari di ruang perawatan intensif. Tangannya pun sempat membengkak selama satu minggu.
Menanggapi kasus ini, James Murphy, kepala Reptile Discovery Center di Smithsonian's National Zoo, Washington DC mengatakan bahwa ular masih bisa refleks menggigit mangsanya lebih dari 60 menit pasca kematiannya.
(lll/)










































